Minyak panas baru saja berdesis ketika suasana langsung berubah menjadi campuran tawa dan kepanikan kecil di antara meja-meja masak yang mulai ramai bergerak dalam kegiatan ekspresi Cooking, Jumat (29/05/2026) pagi di SDIT Insantama Bogor. Anak-anak sibuk mengaduk, saling memberi instruksi cepat, dan berpacu dengan waktu untuk menyajikan olahan dari bahan sederhana yang mereka miliki.
Dari dapur itu, tahu dan tempe berubah menjadi 32 menu hasil kreasi 16 kelompok. Mulai dari katsu tempe, sup tahu ala HokBen, stik tempe, perkedel tempe, martabak telur, hingga sayur lodeh yang aromanya memenuhi ruangan.
“Perang” di Dapur Kecil
Kelompok memasak Bu Siti langsung bergerak cepat. Ahna dan Atha sibuk di area kompor, Ruby menjaga bahan dan peralatan, Nabilah sigap membantu, sementara Nissa dan Aleena fokus pada pengolahan dan penyajian.
“Ayo kita bikin yang lebih bagus!” seru Aleena ketika melihat kelompok lain mulai menunjukkan hasil masakan mereka.
Sejak itu, dapur berubah menjadi arena kompetisi yang hidup. Wajan berpindah cepat, bahan jatuh bangun, dan instruksi bersahutan di tengah kesibukan memasak.
30 Menit Terakhir
Ketegangan meningkat ketika suara penanggung jawab lomba terdengar dari pengeras suara.
“Waktunya tinggal 30 menit!”
Seketika suasana berubah. Beberapa kelompok mulai panik.
“Waduh, kita belum bikin sup tahunya!” seru Atha.
Guru pendamping segera menenangkan situasi. “Tenang, kuahnya dipercepat saja. Yang penting selesai dulu,” ujarnya.
Di momen itu, anak-anak belajar, memasak bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kerja sama, strategi, dan ketenangan di bawah tekanan.
Di Meja Juri
Penilaian dilakukan oleh Forum Silaturahmi Orang Tua Siswa (Fosis) bersama SC Cooking Pak Chandra Gumelar serta para orang tua siswa. Di antaranya hadir Bunda Dewi, bundanya Rafa (kelas 3B), dan Bunda Cici, bundanya Zaki (kelas 3F).
Mereka mencicipi satu per satu hasil masakan dengan ekspresi beragam.
“Masya Allah, enak-enak… walau ada satu yang agak keasinan,” ujar Bunda Dewi sambil tertawa.
Sementara itu, Bunda Cici menyoroti kreativitas anak-anak dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian yang tidak biasa.
Penilaian pun berakhir, menyisakan tawa dan aroma masakan yang masih tertinggal di ruang kegiatan. Meski tanpa piala, yang tersisa justru pengalaman yang tak selesai dibicarakan: tentang dapur, tawa, dan keberanian mencoba.[] Siti Sobiah







