Apa yang ingin dicari?
Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Saat Nabila Alergi Coklat, Kelas Cooking Belajar Peduli dan Cermat

“Bu, boleh enggak ana enggak makan pisang aromanya? Karena ada coklatnya. Kata Mama, ana bisa dirawat di rumah sakit kalau ana makan coklat,” kata Nabila, kelas 3B, dengan wajah memelas.

Kalimat itu membuat suasana Ekspresi Cooking kelas 3 SDIT Insantama, Jumat (15/05/2026), terdiam hening. Di tengah riuh teman-temannya yang antusias menyiapkan pisang aroma, Nabila justru sibuk memastikan dirinya aman dari makanan pantangan. Di hadapannya, coklat meses sudah tersusun rapi bersama pisang, keju, kulit lumpia, dan minyak goreng yang siap digunakan untuk praktik menggoreng hari itu.

Bagi sebagian besar anak, coklat adalah rasa bahagia. Manisnya selalu berhasil membuat makanan sederhana terasa istimewa. Namun bagi Nabila, coklat bukan camilan biasa. Sedikit saja masuk ke tubuhnya, risikonya tidak main-main. Karena itulah ia memilih jujur ​​sejak awal sebelum kegiatan dimulai.

“Alhamdulillah, terima kasih Nabila sudah kasih tahu Bu Siti sebelum Ibu bertanya ada yang alergi coklat apa tidak,” ujar guru pendamping  sambil tersenyum pada Nabila.

Perhatian sederhana itu menjadi pelajaran penting pagi itu. Kelas memasak ternyata bukan hanya tentang belajar memasak atau menghasilkan makanan yang enak. Di balik suara minyak mendesis dan tawa anak-anak, ada pelajaran tentang kepedulian, kehati-hatian, dan keberanian menyampaikan kondisi diri sendiri.

Guru pendamping kemudian memastikan Nabila tetap bisa mengikuti kegiatan dengan aman. Pisang aroma milik Nabila dibuat coklat tanpa meses.”Wah, pisang aroma buat Nabila dibuat spesial ya Bu, biar ana yang buatkan buat Nabila”, ujar Ahna penuh perhatian.

Teman-temannya pun mulai memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Ada yang bebas menikmati semua makanan, ada juga yang harus sangat berhati-hati terhadap bahan tertentu.

Pagi ini anak-anak belajar bahwa perhatian bisa dimulai dari hal kecil, seperti menanyakan bahan makanan sebelum berbagi camilan.

Ekspresi memasak hari itu akhirnya meninggalkan kesan lebih dalam daripada sekadar melakukan proses menggoreng. Harumnya aroma pisang memang memenuhi lapangan, tetapi nilai kepedulianlah yang paling terasa hangat.

Dari keberanian seorang Nabila menyampaikan alerginya, semua teman belajar bahwa keselamatan siswa saat memasak bukan hanya dijaga ketika proses memasak berlangsung, tetapi juga sejak memilih bahan makanan yang aman untuk setiap anak.[] Siti Sobiah

Baca lainnya

Saat Nabila Alergi Coklat, Kelas Cooking Belajar Peduli dan Cermat

"Bu, boleh enggak ana enggak makan pisang aromanya? Karena ada coklatnya. Kata Mama, ana bisa dirawat di rumah sakit kalau ana makan coklat," kata Nabila,…