“Goyang lagi! Jangan berhenti!” ujar siswa kepada rekannya. Tawa riang pun pecah di halaman sekolah, Jumat, 17 Oktober 2025. Plastik-plastik berisi susu cair berpindah dari tangan ke tangan, diguncang penuh semangat. Wajah-wajah kecil itu tampak penasaran sekaligus antusias. Benarkah tanpa mesin pendingin, susu bisa berubah menjadi es krim?
Kegiatan Ekspresi Saintis menghadirkan eksperimen sederhana namun seru untuk menjawab pertanyaan di atas. Dengan bahan yang mudah ditemukan yakni susu cair, es batu, plastik, dan garam, para siswa menantang diri menciptakan es krim hasil olahan tangan sendiri.
Setelah mendapat penjelasan dari pembimbing, anak-anak mulai bekerja. Susu dimasukkan ke dalam plastik kecil dan ditutup rapat. Plastik itu kemudian dimasukkan lagi ke dalam plastik besar berisi es batu dan garam. Aba-aba diberikan, dan semua mulai menggoyang sekuat tenaga. Tangan mulai terasa pegal, tetapi semangat justru semakin menyala.
Beberapa menit kemudian, terdengar sorakan gembira. “Sudah membeku!”
Susu yang semula cair perlahan mengental dan berubah tekstur menjadi lembut. Senyum puas pun merekah di wajah mereka.
Di balik keseruan itu tersimpan konsep ilmiah tentang penurunan titik beku. Sebagaimana dijelaskan guru, garam yang dicampurkan ke dalam es membuat suhu turun hingga di bawah 0°C. Suhu yang lebih rendah inilah yang menyebabkan susu di dalam plastik membeku menjadi es krim. Anak-anak pun memahami bahwa sains tidak hanya ada di laboratorium, tetapi juga hadir dalam pengalaman sederhana sehari-hari.
Setelah berhasil, setiap siswa menikmati satu gelas penuh es krim hasil karyanya sendiri. Mereka menghiasnya dengan susu kental manis, taburan sprinkle warna-warni, dan potongan buah naga segar. Rasanya manis, lembut, dan dingin. Sepadan dengan usaha menggoyang plastik sambil tertawa riang.
“Wah, enak banget! Capeknya hilang!” ujar salah satu siswa dengan wajah berseri.
Lebih dari itu, mereka diajak mensyukuri kebesaran Allah SWT yang menciptakan hukum-hukum alam begitu teratur. Dari es dan garam saja, manusia dapat memahami perubahan suhu, zat, dan energi. Sains dan keimanan pun berjalan beriringan.
Menjelang akhir kegiatan, sebagian baju memang basah oleh es yang mencair. Namun wajah-wajah itu tampak puas. Mereka pulang bukan hanya membawa es krim yang manis, tetapi juga membawa ilmu penting bahwa setiap pengalaman sederhana dapat menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.[] Ade Willy Surtinih







