Pemimpin tidak lahir tiba-tiba di bangku kuliah. Namun harus ditempa sejak dini. Dari keberanian bertanya di ladang, kemandirian tinggal di desa, hingga keyakinan menatap kampus impian. Melalui rangkaian Leadership for Champions (LC), siswa-siswi SDIT Insantama menapaki jejak pembentukan karakter dari akar kehidupan hingga gerbang perguruan tinggi.

Ditempa di Ladang Kehidupan
Di Desa Limbung (11–13 Desember 2025), siswa SDIT Insantama Pontianak belajar kepemimpinan langsung dari masyarakat. Mereka mewawancarai peternak sapi, petani sayur, petani padi, hingga pemilik kebun jambu kristal. Sebelum terjun, guru membekali adab bertanya dan etika berinteraksi.
Anak-anak mencatat proses perawatan ternak, menanam tomat dan sawi, hingga menghadapi hama dan cuaca. Rasa malu perlahan berubah menjadi keberanian. Dari ladang dan kandang, mereka belajar kesabaran, kerja keras, dan ketangguhan yang merupakan fondasi kepemimpinan sejati.
Semangat serupa hadir di Desa Sidokaton (19–21 Januari 2026). Siswa kelas 4 SDIT Insantama Bandar Lampung tinggal di rumah warga, mengelola kebutuhan pribadi, menjaga kerapian, dan mematuhi aturan rumah. Mereka juga berlatih menjadi MC, kultum, membaca Al-Qur’an, hingga adzan dan iqamah.
Observasi perkebunan dan dialog dengan perangkat desa melahirkan analisis SWOT potensi pertanian setempat. Program infak Pra-LC yang menghimpun Rp4,3 juta diwujudkan dalam paket sembako bagi warga. Di sini, kepemimpinan menemukan ruhnya: kepedulian.
Menatap Kampus Gemilang
Jika LC #1 menanamkan akar, maka LC #3 menumbuhkan sayap mimpi. Siswa kelas 6 SDIT Insantama Blitar (19–21 Januari 2026) mengunjungi Akademi Komunitas Negeri Putra Sang Fajar Blitar, kunjungan pertama tingkat SD yang diterima kampus tersebut. Mereka berdialog percaya diri dengan akademisi.
Perjalanan berlanjut ke Universitas Negeri Malang, Fakultas Teknik. Rakitan mobil listrik gokar dan penjelasan Dr. Ahmad Atif Fikri, M.Eng., Ph.D. membuka cakrawala baru. Di Universitas Brawijaya, Fakultas Teknologi Pertanian, mereka mengenal dunia pertanian modern dan peluang masa depan.
Di timur Indonesia, 13 siswa kelas 6 SDIT Insantama Ternate bertolak ke Makassar (27 Januari 2026). Di Universitas Hasanuddin, mereka menyaksikan laboratorium kelautan dan proses perkembangbiakan kuda laut. Di Universitas Muhammadiyah Makassar, mereka memandang kota dari lantai 16 observatorium.

Di Universitas Fajar, mereka belajar menulis berita 5W+1H sebagai “mahasiswa sehari”. Kunjungan ke Masjid 99 Kubah, Masjid Al-Markaz Al-Islami, dan Benteng Rotterdam menanamkan nilai spiritual dan sejarah. Di Herald Indonesia, mereka mencoba peran host, fotografer, hingga simulasi podcast.
Dari ladang sederhana hingga kampus gemilang, Leadership for Champions membangun generasi berkarakter, mandiri, dan visioner. Insantama tidak sekadar mengajarkan teori, tetapi menghadirkan pengalaman nyata.[] Falsa Mukhlisan-Annisa-Rahma-Hamzah







