Di balik rapat kurikulum, forum kajian, dan kesibukan mendidik siswa, ada kisah kasih yang tumbuh di Insantama. Cerita tentang dua insan yang dipertemukan oleh perjuangan, lalu dipersatukan dalam pernikahan. Warga menyebutnya sederhana: kawin-mawin.
Namun fenomena ini bukan sekadar cerita romantis tentang jodoh yang bertemu di tempat kerja. Di Insantama, kawin-mawin menjadi potret unik dari sebuah ekosistem pendidikan Islam: ketika nilai, visi, dan adab bertemu, tumbuh, lalu berbuah menjadi ikatan suci bernama pernikahan. Ini adalah jodoh yang tertaut dalam takwa, bukan sekadar tertarik oleh rasa. Apalagi sekadar harta ataupun rupa.
Fenomena ini lahir bukan dari ruang hampa. Namun tumbuh dari kebersamaan dalam dakwah pendidikan, dari hari-hari panjang mendidik generasi, dari interaksi yang dijaga adabnya, dan dari kesamaan pandangan tentang hidup, keluarga, serta masa depan peradaban. Di Insantama, pernikahan bukan sekadar urusan personal, tetapi bagian dari proses panjang pembentukan karakter dan penguatan barisan dakwah.
Istilah Kultural yang Sarat Makna
Istilah kawin-mawin di Insantama bukanlah label resmi, apalagi program lembaga. Kawin-mawin tumbuh sebagai istilah kultural, sebuah penamaan spontan dari pengamatan keseharian. Ketika beberapa insan yang dipertemukan oleh aktivitas pendidikan dan dakwah akhirnya melangkah ke jenjang pernikahan.
Dalam kultur Insantama, kawin-mawin tidak dimaknai sebagai peristiwa romantis semata. Bukan sekadar soal “cocok”, bukan hanya tentang kesiapan materi, dan bukan pula sebatas rasa suka. Kawin-mawin adalah pernikahan yang tumbuh dari kesamaan nilai, kesatuan visi hidup, serta adab pergaulan yang dijaga sejak awal.
Jika banyak pernikahan hari ini berangkat dari romantisme cepat atau pertimbangan duniawi semata, maka kawin-mawin di Insantama lahir dari proses panjang pembentukan karakter. Cinta hadir bukan sebagai titik awal, melainkan buah dari kesamaan jalan hidup dan kesadaran akan misi yang lebih besar.
Budaya Adab dan Ta’aruf
Fenomena ini bertumbuh dari budaya lembaga yang sejak awal menempatkan adab dan nilai Islam sebagai fondasi interaksi. Relasi antarsesama dijaga melalui prinsip ta’aruf: saling mengenal dalam batas yang dibenarkan syariat, dengan pendampingan dan kehati-hatian.
Budaya ta’aruf di Insantama tidak dimaknai sebagai proses serba cepat, apalagi serba bebas. Namun berjalan dalam koridor adab: menjaga pandangan, menjaga lisan, menjaga niat. Setiap langkah diarahkan agar hubungan yang terjalin tidak melampaui batas, serta tetap berada dalam pengawasan nilai dan nasihat.
Pendampingan, baik formal maupun kultural, menjadi pengaman agar proses menuju pernikahan tetap bersih dan bertanggung jawab. Ada dialog dengan orang tua, ada arahan dari pembina, ada musyawarah yang mengedepankan kematangan, bukan sekadar perasaan.
Bagian dari Kisah Dakwah
Fenomena kawin-mawin di Insantama nyata dalam kisah-kisah yang tersebar di balik ruang kelas dan aktivitas dakwah. Ada perjumpaan yang bermula dari kerja bersama, ada pula yang tumbuh dari kebersamaan dalam pengabdian, semuanya berjalan dalam bingkai adab.
Salah satu kisah awal adalah pasangan Eko Agung Cahyono dan Lia Septianti, guru generasi awal ketika Insantama baru mulai membangun. Keduanya alumni IPB, dan baru saling mengenal ketika sudah sama-sama berada di lingkungan Insantama.
Mereka dibantu oleh guru lain yang menjembatani proses ta’aruf. Selama menjalani ta’aruf, mereka tidak pacaran. Bahkan jalan berduaan atau ngobrol berduaan pun tidak dilakukan, baik di sekolah maupun di luar.
Pak Agung, begitu Eko Agung Cahyono biasa disapa, mengungkapkan bahwa pemahaman syariat Islam yang mereka dapatkan dari kajian kampus sangat membentuk cara berpikir.
“Jikapun ngobrol dengan Bu Lia selama di sekolah, itu hanya masalah anak-anak dan tugas. Masalah ta’aruf pribadi kami curahkan di lembar-lembar surat yang saya tulis di malam hari,” ungkapnya sambil tersenyum.
Mereka menikah pada 14 April 2005, ketika Insantama baru menginjak usia empat tahun. Banyak guru dan staf baru mengetahui saat undangan pernikahan disebar. Ini menunjukkan betapa terjaganya proses ta’aruf yang mereka lalui.
Kisah lain datang dari Widodo dan Ade Willy Surtinih, keduanya guru SD, yang difasilitasi melalui bingkai ta’aruf oleh Luluk Faridah, yang juga guru SD. “Visi dakwah dan pendidikan di Insantama memengaruhi keputusan kami untuk menikah. Kami menikah diniatkan karena Allah dan untuk membentuk keluarga hamlud da’wah (pengemban dakwah),” cerita Widodo tentang keputusan mereka di tahun 2014.
Selain kisah-kisah ini, tercatat masih ada puluhan pasangan lainnya yang menggoreskan cerita dalam bingkai kawin-mawin di Insantama. Lengkapnya ada di boks Daftar Kawin-mawin di Insantama (2005-2025).
Dampak bagi Individu dan Keluarga
Fenomena kawin-mawin tidak berhenti sebagai peristiwa sosial yang menggembirakan. Fenomena ini juga meninggalkan jejak bagi pribadi, keluarga, dan lembaga.
Bagi individu, pernikahan menjadi titik pendewasaan iman dan tanggung jawab. Banyak yang merasakan bahwa setelah menikah, orientasi hidup menjadi lebih tertata, perjuangan lebih terarah, dan ibadah lebih terjaga.
Abdurohman (saat itu staf TU SMP, sekarang guru SD) yang menikah dengan Santi Amaliyah (guru SMP) mengungkapkan, “Saling mengingatkan niat dan saling mendoakan. Saat salah satu lelah, yang lain berusaha hadir meski hanya dengan kata sederhana.”
Hasna Fauziah (guru SD) yang menikah dengan Mohamad Panji (staf media) juga berbagi pengalaman, “Ana agak gaptek, terutama software media pembelajaran. Alhamdulillah punya suami yang expert desain dan IT. Kami sering sharing pekerjaan dan saling menguatkan.”
Bagi keluarga, rumah tangga menjadi ruang dakwah kecil. Nilai adab, disiplin, cinta ilmu, dan semangat pengabdian yang selama ini hidup di sekolah dilanjutkan di rumah.
Simpul Kaderisasi Peradaban
Dalam perspektif lebih luas, kawin-mawin di Insantama dapat dibaca sebagai bagian dari kaderisasi yang tidak berhenti pada ruang kelas. Pendidikan Islam tidak hanya mencetak individu yang siap berjuang, tetapi juga menyiapkan keluarga sebagai unit terkecil perjuangan. Sebab peradaban besar tidak dibangun oleh individu yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan oleh rumah tangga yang kokoh dalam iman, visi, dan pengabdian.
Di sinilah pernikahan menjadi simpul strategis. Bukan sekadar kelanjutan cinta, tetapi juga kelanjutan misi. Dua insan yang sebelumnya berjalan dalam orbit dakwah pendidikan, kini dipersatukan agar perjuangan menjadi lebih utuh, lebih stabil, dan lebih berkesinambungan. Maka kawin-mawin bukan sekadar fenomena sosial, tetapi tanda bahwa nilai yang ditanamkan lembaga benar-benar hidup hingga ke pilihan hidup paling fundamental.
Keberlanjutan Nilai bagi Lembaga
Bagi Insantama, fenomena ini menunjukkan, pendidikan nilai tidak berhenti di ruang kelas tetapi berlanjut hingga pilihan hidup paling mendasar.
Ketua Yayasan Insantama Cendekia Ustadz Muhammad Ismail Yusanto menyatakan, Insantama yang berdiri sederhana 24 tahun silam terus bertumbuh bukan hanya dalam jumlah siswa dan cabang, tetapi juga keluarga besarnya.
“Bila pertumbuhan generasi itu didukung pendidikan dan pembinaan berkualitas, kita optimis kelak akan tumbuh kader-kader pejuang di masa datang demi tegaknya kembali kehidupan Islam. Insyaallah,” ungkapnya kepada Newsletter Kabar Insantama.
Lembaga tidak hanya mencetak lulusan, tetapi ikut melahirkan keluarga-keluarga pejuang yang menghidupkan visi Ansharullah di ruang yang lebih luas.
Fenomena Gerakan di Berbagai Cabang
Menariknya, kawin-mawin tidak hanya terjadi di Insantama Bogor (pusat). Fenomena ini juga tumbuh di berbagai cabang seperti Banjar Ciamis, Malang, Kendari, Lampung, hingga Leuwiliang.
Ini bukan sekadar kebetulan lokal, tetapi pola yang berulang: kesamaan visi yang dipertemukan oleh misi. Insantama bukan hanya tempat bekerja, tetapi ruang perjuangan yang menyatukan orang-orang dengan orientasi hidup searah: pendidikan sebagai jalan dakwah, keluarga sebagai basis peradaban, dan pernikahan sebagai penguat barisan.
Merawat Nilai, Menjaga Amanah
Liputan ini tidak dimaksudkan untuk mengidealkan pernikahan atau menstandarkan jalan hidup setiap orang. Tidak semua harus bertemu jodoh di lingkungan yang sama. Namun kawin-mawin di Insantama adalah cermin kecil ketika nilai dijaga, adab dirawat, dan visi diperjuangkan bersama, Allah menghadirkan jalan-jalan kebaikan yang tak disangka.
Kawin-mawin di Insantama menunjukkan pendidikan nilai yang konsisten dapat berbuah hingga pada keputusan hidup yang paling strategis. Juga membuktikan, sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi ekosistem yang menumbuhkan adab, membentuk cara pandang, dan melahirkan keluarga-keluarga yang siap menjadi fondasi dakwah. Jodoh yang bertaut dalam takwa ini, pada akhirnya, adalah bagian dari harapan panjang lahirnya generasi Ansharullah di masa depan. Insyaallah.[] Nono Hartono
Daftar Kawin-mawin di Insantama (2005-2025)
| Nama Pasangan | Waktu Pernikahan |
|---|---|
| Eko Agung Cahyono dan Lia Septianti (sesama guru SD) | 14 April 2005 |
| Cahyadi dan Euis Rachmawati (saat itu sesama guru SD) | 21 Juli 2007 |
| Hafit Budiansyah (saat itu staf TU SD, sekarang staf bagian umum) dan Raden Eti Siti Maryam (guru SD) | 11 Oktober 2009 |
| Widodo dan Ade Willy Surtinih (sesama guru SD) | 21 April 2014 |
| Adi Hidayat (saat itu TU IBS, sekarang staf PA SIT Insantama) dan Yuliana Anggraini (saat itu staf keuangan) | 17 Mei 2014 |
| Abdurohman (saat itu staf TU SMP, sekarang guru SD) dan Santi Amaliyah (guru SMP) | 28 September 2014 |
| Muhammad Arifurahman (guru SMP) dan Ida Marlina (guru SD) | 28 Desember 2015 |
| Miko Afrian (staf Direktorat SDM) dan Atifa Rahmi (guru SMA) | 8 Januari 2017 |
| Alif Azwar (staf TU SMP) dan Gilang Faraziah Febriana Dewi (guru SMP) | 2 September 2018 |
| Shalihuddin Adzdzuhri (guru SMA) dan Syafarani Risdiana (putri Ketua YIC, Insantama Muda) | 4 April 2019 |
| Muhammad Imadudin Siddiq (alumni Insantama, YIC Muda) dan Raudhah Rahmatillah Nailati (alumni Insantama, Insantama Muda) | 14 April 2019 |
| Irwan Aris Sandy dan Irdawati (sesama muadib IBS) | 8 Mei 2020 |
| Zikrullah dan Windy Lismawati (sesama muadib IBS) | 27 November 2020 |
| Rian Triana dan Mumawaddah Rizqiyatul Hayyah (sesama muadib IBS) | 13 Desember 2020 |
| Muhammad al-Fatih (staf IT) dan Kamila Rahma Azizah (YIC Muda) | 7 Januari 2022 |
| Ahmad Muzakki dan Rina Dwi Lestari (sesama muadib IBS) | 26 Juni 2022 |
| Ricky Aditya dan Neng Wina Apriliana (sesama guru SD) | 25 Desember 2022 |
| Tri Rahmat Ariefiyanto (staf IT) dan Sekar Pertiwi (staf keuangan) | 15 Januari 2023 |
| Mohamad Panji Nur Afrian (staf media) dan Siti Nurhasna Fauziah (guru SD) | 12 Maret 2023 |
| Dedi (muadib IBS) dan Waddah Arrahmani (guru SMP) | 30 Juli 2023 |
| Bambang Haryanto dan Lani Pujiastuti Pratiwi (sesama guru SD) | 24 September 2023 |
| Muhamad Suhadi dan Sri Ratna Dewi (sesama guru SD) | 2 Juni 2024 |
| Ahmad Nashir Almuhtadi dan Zaitun Hasanah Hasibuan (sesama guru SD) | 30 Juni 2024 |
| Ridho Pribadi Sidiq dan Yanis Destiani (sesama guru SD) | 10 November 2024 |
| Julianto dan Siti Aisyah (sesama muadib IBS) | 1 Februari 2025 |
| Tubagus Naufal Ammaar Hisyam (guru SMA) dan Fathiya Hasna Karima (alumni Insantama, Insantama Muda) | 14 Juni 2025 |
| Muhammad Farhan Zuhdi dan Siti Maulidina Tanjung (sesama guru SD) | 27 Desember 2025 |
| Muhammad Hanif dan Fitria Zakiyatul Fauziyah (sesama muadib IBS) | 30 Desember 2025 |







