Keindahan menjadi perhatian untuk dinikmati keberadaannya. Selama manusia hidup dan dunia masih berputar, keindahan identik dengan kebaikan. Agar sesuatu menjadi Indah diperlukan kebaikan-kebaikan.
Adalah fitrah manusia merasa bahagia bila keindahan tampak dihadapannya. Contoh keindahan seperti kebersihan, kerapihan, ketampanan/kecantikan, kemerduan, keharmonisan, kekayaan/kesuksesan, dan jenis keindahan lainya. Pastinya disukai manusia.
Sebaliknya, bila ketidakindahan tak tampak dihadapan mata seperti kotor, berantakan, suara sumbang, buruk perilaku, kekacauan, kemiskinan dan jenis ketidakindahan lainnya, maka manusia cenderung memandang sebelah mata. Bukan pandangan kebahagiaan, atau sesuatu yang membanggakan lagi, bisa jadi cacian yang dilontarkan.
Namun, ketidakindahan perilaku adalah hal terburuk, yang dibenci manusia bahkan Sang Khalik. Sementara akhlak yang baik menghasilkan keindahan perilaku dan ucapan. Yang harus selalu dijaga agar tak tergelincir pada ketidakindahan diri.

“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, kejelekan (dosa) itu adalah sesuatu yang meresahkan jiwamu dan engkau benci apabila manusia mengetahuinya.” (HR. Muslim).
Keindahan ahlak inilah yang harus menjadi perhatian penting bagi manusia, yang menjadi penilaian sesama dan Sang Khalik.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Ada tiga perkara, barang siapa ketiganya berada dalam dirinya ia pasti mendapat pahala dan keimanan yang sempurna, yaitu: akhlak yang baik yang disandangnya dalam kehidupan bermasyarakat; sifat wara’ (berhati-hati) yang mencegahnya dari hal-hal yang diharamkan Allah Swt. dan sifat penyantun yang membuatnya memaafkan kebodohan orang yang jahil terhadap dirinya.” (HR. al-Bazzar melalui Anas r.a).
Jika sifat malu menjadi perhatian penting agar ahlak tetap terjaga, maka keindahan akan dirasakan sesama. Tanpa ingin dinilai sesama, seorang muslim harus mempunyai sifat malu kepada Allah, bila melanggar aturan-Nya akan merusak keindahan hidup manusianya itu sendiri.
Malu bila berkata yang tidak seronok, kasar, jorok, atau menyakitkan serta yang tak santun lainnya. Dan malu bila melakukan kezhaliman terhadap sesama seperti mencuri, meminjam tanpa izin, merusak, mengotori, memukul, dan segala bentuk kezhaliman lainnya. Begitupula kepada Allah Swt, malu bila bermaksiat, meninggalkan ibadah wajib, berburuk sangka kepada-Nya, serta tidak mempedulikan ajaran-Nya.
Surga adalah gambaran dari keindahan, dan kesuksesan. Keindahan dari perbuatan, ahlak yang baik. Buah dari keimanan. Bagi yang sukses menjaganya berhak mamasukinya. Sehingga Allah mencintai, dimasukannya manusia itu ke dalam surga.
Apakah kita sedang menjaga keindahan diri dengan keimanan dan akhlak baik sesuai yang Allah harapkan dengan aturannya, sehingga setiap mahluk melihat kita indah? Allah pun selalu memperhatikan.







