Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Ustadz Didin

“Ismail, kamu jangan seperti saya. Pergi ke mana-mana, tapi tak bikin apa-apa.”

Bila ada tokoh yang paling menarik perhatian dalam acara Tasyakuran Akbar 24 Insantama baru lalu di Auditorium Insantama, tak lain adalah Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin. Ustadz Didin, begitu biasa beliau disapa, bagi Insantama memanglah spesial. Ia adalah guru dari seluruh pimpinan Yayasan, bahkan juga sebagian guru Insantama saat dulu berkuliah di IPB.

Di sana, Ustadz Didin pernah cukup lama sebagai Koordinator TPAI (Tim Pengajar Agama Islam) IPB. Sebagai dosen dan juga Pembina Masjid al-Ghifari IPB, Ustadz Didin dikenal akrab dengan para mahasiswa aktivis dakwah, yang kini sebagiannya menjadi pimpinan Yayasan dan guru Insantama.

Saya sendiri, meski tidak berkuliah di IPB, tapi tetap juga adalah muridnya karena pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Ulil Albaab yang dipimpinnya, dari tahun 1988-1991, selepas saya kuliah di T. Geologi, F. Teknik UGM. PP Ulil Albaab sendiri didirikan oleh Buya M. Natsir, Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia ketika itu, bersama para ulama lain, untuk membina para mahasiswa dan sarjana. Santrinya datang dari berbagai perguruan tinggi. Ada dari UI, ITB, UIKA, UGM, IKIP Malang dan lainnya, dan tentu saja dari IPB.

Ustadz Didin banyak memberi keteladanan dan inspirasi kepada para muridnya dalam keilmuan, kesantunan, keistiqamahan dan tentu saja dalam pendidikan. Selain memimpin PP Ulil Albaab, beliau pernah menjadi Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Ketua Umum Baznas, juga Direktur Pasca Sarjana UIKA Bogor. Dari keistiqamahannya, PP Ulil Albaab telah melahirkan banyak kader dakwah yang bergerak di berbagai bidang.

Selama nyantri di PP Ulil Albaab, saya tahu beliau sangat rajin bangun jauh sebelum subuh. Membangunkan putri-putrinya. Lalu, ditemani secangkir kopi kesukaannya, itulah waktu beliau banyak menulis. Suara ketak-ketuk mesin ketik manualnya terdengar keras sampai ke kamar santri yang memang bersebelahan dengan kediamannya. Ustadz Didin adalah penulis yang produktif. Puluhan buku telah ditulisnya. Tulisan lepasnya tersebar di berbagai media, kemudian dihimpun dalam sebuah buku tebal berjudul Membangun Kemandirian Umat. Beruntung saya mendapatkannya langsung dari tangannya.

Ustadz Didin selalu hadir di momen-momen penting Insantama. Pertama kali hadir dalam Tasyakuran 12 Tahun Insantama tahun 2013. Diadakan di halaman yang sekarang menjadi plaza dan skybridge. Kemudian Ustadz Didin hadir dalam peletakan batu pertama pembangunan MPI (Masjid Pendidikan Insantama).

Ustadz Didin juga yang memberi nama Masjid Pendidikan Insantama. Setelah rampung, Ustadz Didin bersama Wali Kota Bogor Bima Arya, meresmikannya. Dan alhamdulillah, di usia yang tak lagi muda, serta kesehatan yang jauh menurun oleh karena gangguan jantung yang dideritanya, Ustadz Didin masih bisa hadir dalam Tasyakur Akbar 24 Tahun Insantama. Di kesempatan itu, beliau memberikan tausiyah yang singkat tapi sangat bernas. Ada terpancar rasa bahagia dan bangga melihat Insantama yang didirikan oleh para muridnya itu terus tumbuh dan berkembang ke berbagai kota di Nusantara.

Kalimat di atas adalah pesan pendek yang disampaikan kepada saya pada suatu kesempatan, lupa kapan, karena sudah sangat lama. Sebuah pesan yang tidak bisa saya penuhi. Saya bilang, “Wah, Ustadz, saya sudah keblanjur seperti Ustadz, pergi ke mana-mana.” Namun demikian, bersama dengan teman-teman dalam Yayasan Insantama Cendekia, tetap bisa bikin sesuatu. Itulah Insantama, yang insyaallah akan juga mengalirkan pahala untuk guru kita semua tercinta, Ustadz Didin.[]

Baca lainnya

Ustadz Didin

“Ismail, kamu jangan seperti saya. Pergi ke mana-mana, tapi tak bikin apa-apa.” Bila ada tokoh yang paling menarik perhatian dalam acara Tasyakuran Akbar 24 Insantama…