Ibarat oase di tengah kekuatiran banyak sekolah tidak dapat meluluskan seratus persen siswanya —hingga tidak sedikit yang melakukan kecurangan dalam ujian nasional (UN)—, SMA Islam Terpadu Insantama berhasil meluluskan semua siswanya dengan nilai di atas rata-rata.

Lebih dari itu, bahkan beberapa siswa mendapatkan nilai memuaskan salah satunya seperti yang diraih Ahmad Nazhif Rahmatu Rabbi, angkatan kedua (2014) dengan nilai rata-rata 8,4.Ia merasa santai saja tatkala akan menghadapi ujian yang menentukan lanjut atau tidaknya ia ke perguruan tinggi, tetap senang dan tenang.

“Apa alasannya kita tidak tenang menghadapi UN? Is there something wrong? UN itu cerminan atas proses belajar kita selama ini, apakah kita memahami materi atau tidak yang disampaikan selama tiga tahun lamanya,” ungkapnya.

Nadzif  mengaku tak pernah lupa untuk meminta doa dan keridhaan orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua dan para gurunya. Menurutnya, itu yang utama. Tak lupa, banyak melakukan amalan kebaikan. “Karena dengan begitu, bisa jadi kita bisa mendapatkan do’a dari orang yang telah kita bantu,” ujarnya.

Ia tak sendiri, teman-temannya yang lain mendapatkan nilai kisaran 8,3; 7,9; 6,8; dsb. Nilai-nilai ini tentu mereka dapatkan dengan kejujuran mereka. Ya, bagi pelajar SMAIT Insantama termasuk Nazhif, tak ada kata “nyontek” dalam ujian apapun. Apalagi kecurangan yang telah melembaga pada masa kekinian. Nyontek atau bentuk kecurangan lainnya sama sekali tidak pernah dilakukan oleh mereka maupun angkatan pertama SMAIT Insantama (2014) yang juga lulus semua.

“Karena ada Allah Yang Maha Melihat, kita sudah diajarkan untuk berbuat segala sesuatu hanya karena Allah saja, bukan karena iming-imingan nilai atau pujian manusia,” tegasnya.

Oleh karena itu, percuma mendapat nilai tinggi tetapi tak berbuah keridhaan di sisi Allah SWT. “Nilai tinggi pun jika cara yang ditempuh untuk meraihnya salah, tak ada harganya di hadapan Allah dan tentunya tak dapat menolong kita saat di Yaumul Hisab kelak. Kalaupun nilai tinggi tetapi tidak diridhoi Allah untuk apa? Nilai UN yang tinggi pun tidak menjamin dapat diterima di PTN berkualitas,” begitu ungkapnya.

Menurutnya, nilai UN itu sendiri tidak terlalu penting, yang terpenting adalah proses saat menjalaninya, terutama proses saat pembelajaran berlangsung. Meskipun demikian, ia tetap ingin membuat orang tuanya bangga dengan menjadi anak yang shalih dan bagus prestasi akademiknya. Tak sekedar orang tua, tetapi ia pun ingin membuat bangga para gurunya yang telah mendidik dan membinanya selama ini. “Membuat bangga tak perlu dengan cara curang!” pungkasnya.[]