Para siswa, guru akhwat, dan beberapa orang tua siswa, bersorak dengan diiringi tepukan tangan ketika menonton tingkah polah guru ikwan yang bermain drama musikal di atas panggung yang digelar di lapangan tengah SDIT Insantama, Rabu (3/1) pagi.

Ceritanya, terjadilah pertempuran yang sengit antara Gatotkaca (diperankan oleh Pak Sodik Permana, wali kelas VA) dan Anak Punk (diperankan oleh Pak Yusep Syamsul Bahri, wali kelas IA).  Di sela-sela pertarungan, Anak Punk duduk meminta untuk beristirahat dan memakan makanan tanpa cuci tangan terlebih dahulu.  Kondisi ini ternyata mengundang kehadiran para pasukan kuman yang diperankan dengan apik oleh Pak Widodo (wali kelas IIIB), Pak Wiyanto (wali kelas IVB), dan Pak Aris Setyonugroho (wali kelas IIIA) untuk mengontaminasi Anak Punk.

Sesaat kemudian Gatotkaca dan Anak Punk kembali terlibat duel seru.  Keduanya sama-sama menggunakan jurus panco.  Pertarungan itu dipimpin oleh seorang wasit, yang diperankan Pak Chandra Gumelar (wali kelas IID).  Karena kondisi Anak Punk yang sudah terkontaminasi kuman menyebabkan dirinya jatuh sakit.  Namun, setelah minum obat Anak Punk pun kembali melanjutkan pertarungannya.  Pada babak ini mereka menggunakan jurus skipping.

Di tengah pertarungan, Anak Punk bertindak ceroboh.  Anak Punk pun membuang berbagai sampah bekas bungkus makanannya.  Perlakuan Anak Punk menjadikan pasukan sampah pun bertebaran di arena pertarungan. Keberadaan sampah-sampah ini menjadikan pasukan tikus pun berdatangan.  Pasukan tikus yang diperankan oleh Pak Agus Sulaeman (Wakasek kurikulum), Pak Muhammad Sabturi (wali kelas IC), dan Pak Ibnu Hakim (wali kelas IIIC) memenuhi arena dan mengeluarkan berbagai kotoran yang pada akhirnya membuat Anak Punk kembali jatuh sakit untuk kedua kalinya.  Badannya terasa gatal-gatal dan ini sangat mengganggu konsentrasi bertarungnya.

Kondisi tubuh yang sakit membuat kekuatan Anak Punk pun jauh berkurang.  Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Gatotkaca.  Dan, dengan sekali jurus Anak Punk pun terjatuh dan kemudian dinyatakan kalah oleh wasit.  Wasit mengangkat tangan Gatotkaca dan dinyatakan sebagai pemenang pertarungan kali ini.

Kekecewaan pun melanda Anak Punk.  Anak Punk tidak terima atas kekalahan ini.  Ia berjanji untuk menantang kembali Gatotkaca.  Namun, dengan kondisi yang ada sekarang, dia merasa tidak bakalan mampu mengalahkan Gatotkaca.  Tekad pun dihujamkan dalam dada Anak Punk untuk mencari guru agar ilmunya bertambah.  Dengan diiringi shalawat “Bismillah”, Anak Punk berguru pada seorang kiai yang diperankan oleh Pak Adi Fadjar Nugroho (Kepala SDIT Insantama).  Bapak kiai memberikan 3 ilmu kekuatan kepada Anak Punk.

Ilmu pertama yang diajarkan adalah cuci tangan.  Berikutnya disampaikan ilmu yang kedua, pasukan penyapu pun mengajarkan bagaimana membersihkan lingkungan. Dan, ilmu ketiga yang diturunkan Kiai adalah memungut sampah.

Ketiga kekuatan ilmu itu pun benar-benar merasuk dalam dada Anak Punk dan dalam waktu singkat mampu dikuasainya.  Saatnya untuk kembali menemui Gatotkaca, melanjutkan lagi pertarungan untuk menuntut balas atas kekalahannya.

Pertempuran babak 3 antara Gatotkaca dan Anak Punk pun akhirnya berlanjut.  Masing-masing ternyata menggunakan kekuatan ilmu dan jurus yang sama.  Di akhir pertarungan, wasit menyatakan bahwa mereka draw, sama-sama kuat, tidak ada yang kalah dan juga tidak ada yang menang.  Dan, di akhir pertandingan itu justru kebahagiaan yang terasa lebih menguasainya.  Mereka semuanya bergembira.  Tampilan drama musikal bertema kebersihan itu pun usai sudah.  Terlihat wajah-wajah sumringah menghiasi para siswa dan juga para guru lainnya.

Semua hadirin merasa senang dengan tontonan ini, termasuk Pak Muhammad Arif Slamet Raharjo (wali kelas VD) selaku sutradara dan PJ drama musikal ini.

“Alhamdulillah, acara berlangsung sukses.  Atraksi drama ini memang dibuat bersifat edutainment (edukasi melalui hiburan), yang dipersiapkan oleh para guru agar anak-anak merasa senang ketika kembali ke sekolah lagi.  Sekaligus diharapkan mampu mengedukasi para siswa agar bisa menjaga kebersihan, kesehatan, dan ketertiban,” jawab Pak Arif ketika  ditanya kesan dan tujuan dari kegiatan penyambutan siswa-siswi SDIT Insantama di hari pertama setelah libur sekolah selama dua pekan.

Penonton pun menyampaikan rasa sukanya pada drama musikal ini. “Asyik, seru, dan menyenangkan karena dihibur guru-guru,” ujar Salman Zanki Akbar, siswa kelas IID.

Hal senada juga dinyatakan Athalla Ahmad Akhtarsyah, siswa kelas IVA. “Lucu, menghibur, dan juga memberi tahu agar kita tidak buang sampah sembarangan,” bebernya.[]