Sedari awal, para siswa sudah merasa ketakutan dan penasaran ketika diberitahu bahwa kunjungan kegiatan farming kali ini  akan berburu Jimmy Hantu.  “Hantu? Iiih…” ujar seorang siswa.

Siswa lainnya bertanya, “Apa hubungannya antara bercocok tanam (farming) dengan  hantu?”

Tapi panitia  farming tidak bergeming memberikan jawaban. “Biar menjadi surprise!” Kata salah satu guru farming mencoba mempertahankan untuk tidak cerita terlebih dahulu kepada siswa.

Maka meski merasa ngeri, siswa-siswi kelas 2 tertarik juga sehingga pada Rabu (4/11) mereka ke lokasi berburu Jimmy Hantu. Sesampai di lokasi kunjungan, mereka di arahkan ke masjid. Di masjid mereka disambut tuan rumah. Di sinilah rahasia itu pecah.  Hal ini setelah ada penjelasan secara resmi dari tuan rumah.  Jimmy adalah nama pemilik usaha pertanian ini.  Sedangkan kata Hantu merupakan kepanjangan dari Hormon Tanaman Tani Unggul, merupakan salah satu produk buatan Bapak Jimmy, semacam hormon tanaman yang mampu membuat tanaman menghasilkan produk yang berukuran raksasa, sangat besar jika dibandingkan dengan produk tanaman serupa pada umumnya.

“Ohhh… ini maksudnya,” ujar salah seorang siswa.

Sekilas terlihat para siswa memahami definisi Hantu yang selama ini dirahasiakan oleh para guru.  Ternyata tidak mengerikan seperti bayangan sosok hantu yang selama ini mereka dapatkan dari cerita orang-orang.  Mereka jadi tidak merasa takut lagi.

Dengan penuh kegembiraan mereka lalu ke kebun untuk mempraktikkan secara langsung cara bercocok tanam dan juga melakukan panen secara langsung.  Para pembina dan pendamping dari Jimmy Hantu sudah siap menyongsong para siswa untuk membantu mereka menjadi petani, walaupun hanya sesaat.

Semua peserta diarahkan menuju lahan kosong yang sudah disiapkan.  Lahan dibuat gundukan sedemikian rupa sehingga para siswa diatur menghadap barisan gundukan tanah.  Siswa menanam benih tanaman kangkung dan juga jagung pada petakan lahan yang sudah diberi lubang.  Tangan-tangan para petani kecil ini sibuk menaburkan benih ke dalam lubang, kemudian menutup lubang tersebut dengan tanah.  Semua dilakukan dengan penuh hati-hati dengan harapan benih yang ditanam dapat tumbuh menjadi tanaman yang subur.

Puas menanam benih, para petani kecil diarahkan menuju kebun jagung yang sudah siap panen.  Mereka pun berburu Jimmy Hantu yang berwujud jagung besar unggulan. Dengan riang, mereka berebut memetik jagung untuk dibawa pulang. Termasuk para guru pendamping juga mendapatkan tidak hanya jagung, tapi juga sayuran kangkung dan sabun hasil produksi Jimmy Hantu.

Sungguh pengalaman yang menyenangkan.  Pengalaman menjadi seorang petani ini insya Allah akan selalu diingat para siswa.  “Kami berharap ada salah satu dari mereka nanti yang akan benar-benar menjadi petani yang sukses di masa depan,” ujar salah seorang guru.[]