Para siswa duduk berjajar di pinggir lapangan depan sekolah. Mereka menantikan kedatangan para pahlawan Islam yang akan datang menghampiri mereka. Luar biasa, motor besar milik Unit Layanan datang memasuki lapangan untuk mengangkut para pahlawan tersebut.

Satu per satu para pahlawan Islam dikisahkan perjalanan hidupnya oleh Sang Narator. “Sang Pahlawan Islam” memasuki lapangan paving dengan iringan alunan backsound musik yang semakin menambah mantabnya kisah hebatnya para pahlawan Islam tersebut.

Setelah “kereta kencana” dari motor besar yang dimodifikasi itu berkeliling di hadapan para siswa, “Sang Pahlawan” kemudian menempati “meja prasasti” yang bershaf-baris di hadapan barisan siswa. Setiap pahlawan berdiri tegak dengan membawa banner tentang biografinya.

Sosok pahlawan Islam sejati yang ditampilkan terdiri dari Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman, Tuanku Imam Bonjol, Kapitan Pattimura, dan Sultan Hasanudin. Tampilan para pejuang Islam sejati ini juga untuk diperkenalkan pada para siswa agar mereka mengetahui bagaimana sepak terjang para pejuang sejati ini dalam mempertahankan bumi negeri Indonesia ini dari tangan penjajah kafir yang ingin menguasai Indonesia.

Anak-anak sangat gembira dengan penampilan guru-guru mereka yang “berubah” menjadi pahlawan Islam. Jadi, nilai seni dan edukatif berpadu menjadi satu pada acara ini.

Selain ingin menunjukkan bahwa bapak dan ibu guru akan senantiasa merasa rindu dan senang dengan kehadiran mereka di sekolah, teatrikal di setiap hari pertama setelah libur panjang tersebut, dijadikan pula proses pengenalan awal akan sosok para pejuang Islam sejati yang semoga dapat memberi asa bagi generasi muda yang kelak harus siap berjuang lebih keras lagi dalam menyelamatklan keluarga, bangsa , dan umat sedunia.[]