Reportase
SaTu Insantama
(Masa Ta’aruf Siswa Insantama) 2019-2020

Talk Show yang Mensolusi dan Menginspirasi

Masih dalam rangkaian kegiatan SaTu Insantama, Selasa 13 Agustus 2019 mengadakan dua acara Talk Show. Curhat Bersama Bunda Zulia, Konsultan Psikologi SIT Insantama, sekaligus bunda asuh boarding Insantama dan Talk Show Inspiratif bersama Bapak Hasan Cinta, Bapak Hasan Mulyono Guro, S.Pd, kepala sekolah SMPIT Insantama Bogor.

Uniknya, teknis pelaksanaan acara ini dilaksanakan secara berselang-seling antara siswa ikhwan dan akhwat di 2 tempat yang berbeda, dalam waktu yang sama di lingkungan SIT Insantama Bogor.

Ibu Zulia mengisi acara di lantai 3 Dining Room SIT Insantama dan Bapak Hasan di lantai 1 SMPIT Insantama. Hal ini agar prinsip infishal (pengaturan terpisah) antara siswa ikhwan dan akhwat tetap terjaga.

Kedua acara ini tidak hanya menarik tetapi juga penting, bermanfaat bagi para siswa baik ikhwan maupun akhwat. Dan secara tidak langsung bermanfaat pula buat para guru. Buat guru, acara ini menjadi semacam re-fresh dan sekaligus pengingat bahwa tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. Dalam proses belajar itu adakalanya ditemukan masalah-masalah yang berkenaan dengan belajar, keluarga, pertemanan dan lain-lain yang dialami siswa.

Ada banyak ragam masalah yang muncul disebabkan karena banyak faktor. Baik dari diri siswa sendiri atau faktor luar, keluarga, teman dan sebagainya. Apapun masalahnya, apabila tidak segera diatasi tentunya akan menghambat proses belajar siswa dan akan berdampak pada prestasi siswa. .

Tema dari pemaparan materi yang disampaikan oleh ibu Zulia di hadapan para siswa adalah “Bersahabat dengan Problem”. Kok bisa ya problem dijadikan sahabat? Nah, itulah syukur alhamdulillah, sungguh beruntung saya bisa hadir di ruangan ini beserta para siswa. Karena, in syaa Allah ada ilmunya yang berupa langkah-langkah untuk merubah mindset, tip dan trik sebagai jurus jitu dalam menghadapi masalah.

Ibu Zulia menyapa ramah semua siswa dengan senyum beliau yang bikin adem di siang hari yang cukup menyengat. Setiap manusia selagi masih hidup pasti mempunyai masalah. Masalah besar, sedang, ataupun kecil. Dan setiap orang mempunyai masalah yang berbeda-beda. “Anak-anak, siapa diantara antum yang tidak pernah mempunyai masalah?”. Tanya Bu Zulia. Dan sebagaimana diprediksi para siswa tidak ada yang mengacungkan jarinya.

Dalam busana muslimah berwarna magenta, khas Insantama Bu Zulia pun memanfaatkan moment kumpul bareng siswa itu dengan 3 tahapan.

  1. Melakukan pendekatan terhadap siswa dengan menyapa dan interaktif secara langsung
  2. Menggali informasi tentang masalah apa saja yang pernah dialami siswa. Para siswa dipersilahkan untuk menuliskannya di secarik kertas yang telah di sediakan oleh panitia (guru).
  3. Ibu Zulia mempersilahkan para siswa untuk melakukan konsultasi secara pribadi kepada beliau dan beliau juga memberikan nomor kontak beliau, jika sewaktu-waktu diperlukan. Yaitu jika siswa sudah berusaha untuk memecahkan masalah tetapi dirasa belum menemukan jalan keluar maka bisa menghubungi beliau. Dengan diadakannya upaya seperti itu diharapkan bisa membantu permasalahan siswa.

Tips dari ibu Zulia, sebagai antisipasi jika siswa dilanda masalah:
1. Jangan merasa paling sengsara
2. Jangan berpikiran sempit
3. Jangan mengasingkan diri
4. Jangan lepas kontrol
5. Jangan mudah menyerah
6. Jangan mencari kambing hitam

Kemudian, ibu Zulia memberikan jurus jitu memecahkan problem:
1. Intropeksi diri
2. Berpikir positif
3. Fight (tegar dan sabar)
4. Berbagi dengan orang yang tepat, terutama yang bisa membantu memberikan solusi
5. Tingkatkan taqarrub ilallah
6. Gunakan solusi Islam:
– Pahami problematikanya
– Kerahkan kemampuan diri secara efektif dan efisien sesuai dengan pandangan hidup seorang muslim

Dan yang juga penting saat dilanda masalah:
1. Jangan panik
2. Yakini dengan kekuatan iman QS. Al Insyirah ayat 5 dan 6:
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
3. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏
4. sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.

Ingatlah bahwa dalam 1 kesulitan, terdapat 2 kemudahan (intisari QS. Al Insyirah 5-6). Dan Optimislah, in syaa Allah pasti Allah SWT mengaruniakan kepada orang yang beriman, taat syari’at (taqwa) dan bertawakal yaitu jalan keluar (intisari QS. Ath Thalaq: 2)

Setelah pemaparan materi, ibu Zulia membuka sesi curhat, ternyata banyak yang antusias tetapi mengingat keterbatasan waktu maka akhirnya hanya dipilih 4 orang untuk maju kedepan dan secara langsung curhat dengan ibu Zulia. Waktu pun terus bergulir, hingga siang pun hampir menjelang shalat Ashar. Bagi siswa yang belum curhat dipersilahkan untuk menuliskan di secarik kertas. Dan ada reward berupa buku karya ibu Zulia yang dihadiahkan kepada 4 peserta akhwat dan 3 peserta ikhwan. Kemudian semua siswa akhwat berfoto bersama ibu Zulia. Alhamdulillah, senangnya …..

Talk Show bersama pak Hasan tak kalah seru dan menariknya. Mendengar pak Hasan berkisah tentang bagaimana kisah riwayat SMPIT Insantama Bogor mulai dari Mbabat Alas hingga setapak demi setapak mengalami perkembangan, serasa kami semua yang berada di dalam forum itu digiring menuju masa silam yang penuh perjuangan dengan segala keterbatasannya.

Dan yang “menggelitik” untuk ditelisik dalam kisah yang dituturkan ini adalah tentang nama beliau. Nama lahir beliau adalah Mulyono Guro, berasal dari Sultra (Sulawesi Tenggara), tepatnya dari kota Kendari. Sedangkan nama panggilan beliau di lingkungan civitas academica Insantama adalah “Hasan Cinta”. Nah darimana asal-usul nama tersebut ? Beliau mengisahkan bahwa nama “Hasan” bermula dari keinginan beliau agar dapat dengan mudah menuliskan nama beliau ke dalam bahasa Arab, maka beliau berpikir bahwa nama “Hasan”-lah yang paling tepat untuk dipilih. Dan dari mana asal-usul “Ismul Laqab” atau kata julukan “Cinta” bisa bersanding dengan nama “Hasan” ? Ismul laqab tersebut didapatkan dari suatu peristiwa, untuk saat ini dapat dikatakan sebagai kenangan.

Bermula dari Angkatan Pertama SMPIT Insantama yang salah satu siswanya saat itu “suka” menggigit tangan gurunya. Nah, suatu ketika sang murid ini didekati dengan “Soft Approach” oleh pak Hasan. Dan sang murid ini, mungkin pada akhirnya merasa simpati dengan pendekatan pak Hasan, lantas dia menanyakan atas hal tersebut dan pak Hasan menjawab “Bapak kan, Hasan Cinta” 😊 yah kurang lebihnya seperti itulah hehe…..

Kemudian, Pak Hasan mengajak para siswa untuk menjadi siswa yang lebih semangat, rajin belajar dan pandai bersyukur, terutama terkait berbagai fasilitas di sekolah yang ada saat ini. Hal ini jika dibandingkan saat masa awal-awal SMPIT Insantama berdiri, yang tentunya “lengkap” dengan segala kekurangan fasilitasnya disana-sini.

Alhamdulillah, step by step SMPIT Insantama selalu berbenah diri dan ibarat gadis di usia yang ke 12 tahun berusaha untuk terus “mempercantik” diri baik secara fasilitas maupun prestasi, terutama adalah dengan mengokohkan aqidah, adab dan akhlak para siswanya. Hal ini sebagaimana tema SaTu Insantama saat ini dan inilah “mempercantik” diri yang hakiki.

Dalam kisah-kisah beliau tentang riwayat SMPIT Insantama, banyak memberikan inspirasi berharga, dapat disimpulkan bahwa seorang guru yang baik harus selalu positif thingking dan sekaligus positif feeling terhadap siswanya seperti apapun siswa tersebut mungkin memiliki “kekurangan” tertentu. Namun dalam hal ini, seorang guru yang baik harus selalu optimis bahwa pada suatu saat nanti para siswanya akan menjadi sosok sukses dunia wal akhirat.

Karena, bisa jadi seorang siswa di satu sisi memiliki kekurangan, tetapi in syaa Allah pasti di sisi yang lain dia memiliki “Mutiara Cemerlang”-nya. Dan alhamdulillah itu terbukti dari 23 siswa angkatan pertama (Alhamdulillah kini sekitar 400-an siswa), ada yang sudah menjadi dokter, apoteker, guru, melanglang buana ke luar negeri dan lain-lain tetapi in syaa Allah semuanya juga menjadi hamba Allah yang peduli umat.

Pelajaran yang didapat dari kisah pak Hasan, bahwa menjadi guru yang baik itu tidak boleh “text book” tetapi selain mampu menginspirasi siswa, seorang guru harus pula mampu memotivasi siswa, kreatif , inovatif dan selalu meng-up grade kemampuannya sehingga dapat terwujud persembahan terbaik dalam menjalankan amanah profesinya sebagai guru. Misal, jika siswa secara mental di-down-kan oleh temannya, maka guru harus berinisiatif secara kreatif dan inovatif mencari cara agar siswa up lagi mentalnya. Dan contoh lainnya, jika seorang siswa memiliki kekurangan di bidang kognitif akademis maka guru tetap husnudzan (positif thingking) dan berusaha untuk menggali sisi istimewa dari siswa yang belum ditemukan dan mungkin belum “diasah”.

Sebagai pamungkas, pak Hasan memberi nasihat kepada para siswa tercinta:

1. Luruskan niat, agar ikhlas dalam bersekolah, belajar dan berinteraksi dengan guru

2. Jangan pernah merasa bosan atau tidak suka terhadap guru, karena hal ini bisa berdampak pada keberkahan ilmu. Maka, para siswa hendaknya: Berusaha untuk mencari apa sisi yang khas dan menarik dari sosok guru. Karena, disinilah para siswa mendapatkan pembelajaran yang lain yaitu pembelajaran tentang kehidupan yaitu mengenali berbagai karakter manusia yang secara personal berbeda-beda.

3. Jangan pernah meremehkan/menyepelekan guru. Oleh karena itu ikuti pelajarannya dengan baik, dengarkan penjelasan, arahan dan nasihatnya, kerjakan tugas yang diberikan (jika ada).

4. Cintai guru dengan tulus dan ikhlas. Karena Allah, in syaa Allah di dalam proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) ada misi dan cita-cita mulia yang hakiki yaitu antara guru dan murid adalah 1 tim yang kompak, saling menguatkan dan menyelamatkan untuk bersama-sama masuk surga. Karena, bukankah belajar dan mengajar sama-sama ibadah ?

5. Sabar dan husnudzan terhadap proses pembelajaran yang diarahkan dan dibimbing oleh guru, agar siswa telaten dan enjoy menjalani prosesnya.

Hikmah:
Menjadi guru itu, bukanlah sekedar mengajar tetapi harus mampu menginspirasi, memotivasi, mensolusi dan terutama memberikan contoh – keteladanan.

Semoga kita semuanya sehat, diberikan segala kemudahan dan semoga ilmu yang telah di dapat dari acara talk show ini menjadi berkah hingga hidup selamat dunia – akhirat. Aamiin

Penulis: Irfah Zaidah