Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah di dalam naungannya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu pemimpin yang adil,…” (HR.Bukhari).

“Apakah antum semua siap menjadi pemimpin masa depan?” tanya pak Ageng, yang menjadi narasumber untuk menggugah semangat para siswa di acara LMT 1 Selasa, 6 Agustus 2019, di pagi hari yang sejuk berpadu dengan sinar mentari yang hangat nan cerah ini.

“Siaaaaap !” Jawab para siswa

“Takbir ! … takbir ! … takbir ! …” komando pak Ageng.
“Allahu Akbar ! … Allahu Akbar … Allahu Akbar!” pekik takbir dari para siswa dengan penuh semangat menggema di Masjid Pendidikan Insantama Bogor.

Konsisten dengan kredo SMPIT Insantama Bogor yaitu Sekolah Calon Pemimpin, maka tema pembahasan kali ini juga terkait kepemimpinan “Dunia Membutuhkan Pemimpin Hebat Yang Siap Menghadapi Perubahan”. Dan patutlah kita mengingat wise word dari sahabat rasulullah SAW, sekaligus sepupu dan menjadi menantu beliau juga yaitu Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhahu: “Kedzaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Oleh karena itu, di tengah carut-marut kehidupan di sekeliling kita, dibutuhkan lahirnya pemimpin hebat yang siap menghadapi perubahan untuk dibawa ke arah yang solutif dan diridhai oleh Allah SWT. Maka, sudah saatnya para remaja muslim menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang amanah, adil (tidak dzalim) dan mendapat pertolongan Allah SWT.
Kemudian pak Ageng memberikan semangat dan pengingat: Jika kita tidak berupaya untuk menjadi pemimpin (yang adil) maka kita yang akan dipimpin oleh pihak yang berjiwa “vampire” yaitu suka menghisap “darah” manusia.

Maksudnya, pemimpin yang dzalim, suka berbuat kerusakan di muka bumi dan menindas rakyat, serta tidak taat kepada Allah SWT sehingga tidak mau menerapkan aturan/syariat-Nya di muka bumi ini. Oleh karena itu pemimpin yang shalih yang mampu menerapkan sistem yang shalih juga (syari’at kaffah), selain sudah urgent menjadi kebutuhan dunia saat ini, hal ini juga merupakan perintah Allah SWT. Maka pak Ageng memotivaksi agar para siswa terus “menggembleng” diri untuk menjadi pemimpin masa depan yang shalih dan menerapkan syariat. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Ra’d Ayat 11:

ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Perubahan diri untuk menjadi pemimpin yang shalih dan menerapkan syariat kaaffah bukanlah perkara bisa atau tidak bisa, bukan juga perkara mampu atau tidak mampu, karena Allah SWT telah menjamin manusia pasti mampu. Sebagaimana firman Allah SWT
Surat Al-Baqarah Ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Kemudian setelah itu tibalah saat break sejenak, para siswa diberi kesempatan untuk rehat dan snack time sekitar 20 menit. Lumayan untuk recharge energi dan konsentrasi mereka agar fresh di sesi kedua. Alhamdulillah, setelah rehat pembahasan pun berlanjut ke sesi 2, dengan tema Pemimpin Yang Mendapat Pertolongan Allah SWT.

Berpijak pada fakta yang ada, bahwa tidak semua pemimpin mendapat pertolongan Allah SWT. Sebagai penegasan, pak Ageng melontarkan pertanyaan “Maukah antum semuanya menjadi pemimpin yang ditolong oleh Allah SWT ?” tanya pak Ageng. Dan semua siswa menjawab dengan serempak “Mauuuuuuuu….. !”

Pak Ageng melanjutkan, “Jika manusia terjatuh dan dia tidak bisa untuk bangkit menyelamatkan dirinya sendiri maka tentu dia berharap ada pihak lain yang bisa menolongnya. Demikian pula dengan manusia, terlebih lagi yang sudah berhasil meraih posisi menjadi pemimpin, di satu sisi dia memiliki tanggung jawab yang besar jika dibanding dengan orang yang posisinya dipimpin, namun demikian dia tetaplah manusia, ya manusia yang pada hakikatnya lemah dan tentu saja memiliki kekurangan. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
‘Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah'” (An Nisa: 2)

Oleh karena itu sehebat apa pun seorang pemimpin, dia tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT, karena tanpa pertolongan Allah SWT apalah artinya segala kehebatan manusia, sungguh tiada berguna dan tentu tanpa pertolongan Allah SWT apa yang dibangga-banggakan oleh manusia seperti tahta, pangkat, jabatan, harta, kecerdasan dan lain-lain semuanya tiada berguna dan manusia lemah tak berdaya. Allah SWT telah berjanji di dalam QS. Muhammad ayat 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Hidup manusia tidaklah selalu “mulus”, tak jarang manusia berada pada titik ketidakberdayaannya. Nah, disinilah manusia harus meningkatkan taqarrub ilallah diantaranya dengan berdo’a kepada Allah SWT. Hendaklah bukan do’a sembarang do’a. Tetapi, do’a yang dipanjatkan hakikatnya adalah manusia menunjukkan sikap tawadhu’ dihadapan Allah SWT dan berkomunikasi dengan-Nya:
“Manusia sering bicara tentang-Nya, namun jarang berbicara dengan-Nya” demikian pak Ageng mengingatkan. Sungguh sebuah reminder yang makjleb!

Di penghujung, acara pak Ageng menasihati para siswa bahwa sikap tawadhu’ juga harus diterapkan kepada sesama, jika di sekolah terutama terhadap guru. Misalnya dengan melakukan salim yang penuh takdzim dan tulus terhadap guru yang dijumpai, tentunya siswa ikhwan dengan guru ikhwan dan siswa akhwat dengan guru akhwat. Kita harus saling mendo’akan.

Dan acara ini ditutup dengan pembuatan komitmen siswa untuk selalu istiqamah meraih mimpi besar, dan terus memperbaiki diri agar menjadi pemimpin masa depan yang amanah, adil dan tawadhu’ yang dibuktikan melalui menerapkan dan taat syari’at secara kaffah sehingga mendapat pertolongan Allah SWT. Kemudian jika sudah tiba masanya, kiranya Allah SWT mewafatkan dalam kondisi husnul khatimah. Aamiin.

Iz’s note