Pengalaman jalan-jalan pertama Kelas 1 dirasa sangat mengasyikan. Kebahagian para siswa mengikuti kegiatan visiting pertama kali ini nampak jelas dari semangat mereka datang ke sekolah pagi itu, Kamis (29/10). Mereka tak ingin menunggu lama lagi, datang ke sekolah langsung berwudhu dan shalat dhuha sendiri-sendiri maupun berjamaah.  Bahkan saking semangatnya, ada yang sudah berwudhu dan shalat dhuha dari rumah karena tidak ingin tertinggal ikut visiting. Taman bermain SKI, Tajur, Kota Bogor  menjadi target pengalaman visiting pertama mereka.

Di perjalanan mereka menyanyikan lagu Becak yang syairnya dirubah menjadi khas visiting kelas 1. “Ana pergi tamasya berkeliling-keliling kota, sambil melihat-lihat keramaian yang ada.  Ana panggil jemputan, mobilnya insantama.  Sopir!  Sopir!  Ayo kita visiting!”  Wah, anak-anak menyanyi dengan lantang dengan diiringi gelak tawa.  Woooww, terasa asyiiiiik sekali….

Sesampainya di SKI, siswa berbaris rapi sesuai kelompoknya.  “Oke… waktunya seru-seruan, bermain permainan yang ada di SKI!”  Seru Bu Rizka pada seluruh siswa.  Tiket permainan siswa, Bu Rizka yang menguasai, he he….   Mau?  Antri ya sayang saat mengambilnya.

Siswa diperbolehkan menaiki 2 permainan yang tersedia di SKI, yaitu perahu padler dan sepeda jogja.  Permainan ini berhubungan dengan tema pembelajaran visiting yang diusung pada kesempatan kali ini, yaitu pembelajaran tema 3 subtema 4: “Jalan-jalan, Yuk!”

Permainan perahu padler dapat dinaiki oleh 2 orang.  Tujuan siswa menaiki perahu padler adalah supaya siswa merasakan asyiknya menaiki kendaraan yang ada di laut, walaupun dalam bentuk miniatur perahu gowes, he he…  yang penting seluruh siswa bersemangat ingin naik perahunya.  Bahkan, ada siswa yang awalnya takut, jadi ketagihan!  Ingin lagi dan lagi.  Walah-walah….  Gurunya jadi kewalahan, hi hi ….

Permainan berikutnya yaitu sepeda jogja.  Nah, kalau yang ini… tidak bisa dinaiki oleh berdua, hmmm… lumayan besar kendaraannya.  Dapat dinaiki oleh 4-5 orang.  Kayuhan sepedanya lumayan tinggi.  Tentunya harus ditemani oleh bapak/ibu gurunya.  Kecuali siswa yang mempunyai postur tinggi akan mampu mengayuh sepadanya, barulah boleh mengayuh sendiri atau bergantian dengan teman-temannya.

Permainan yang ini nih lebih asyik lagi…, bayangkan!  Oleh siswa ikhwan, menaiki sepeda jogja dijadikan ajang balapan.  Aduh… duh… duh… kencang sekali melajunya.  Tenang saja pemirsa, hal ini tidak membahayakan.   Insya Allah dalam pantaun, pendampingan, dan pengawasan guru dengan ketat!  Owalah, gurunya kok yang menyetir.  He he… jadi teringat masa kecil….[]