Sinar mentari yang menyelinap diantara dedaunan seakan mengintip setiap langkah ananda yang hari Ahad (6/10) memperoleh pelatihan kecakapan berkuda. Pelatihan diadakan di Pondok Cengek 2 yang terdapat di jalan Pagentongan No. 1 Loji Bogor Barat.

“Pelatihan keterampilan menunggangi kuda diberikan ke siswa-siswa yang menjabat sebagai Badan Pelaksanaan Harian (BPH) Organisasi Intra Sekolah (OSIS) Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Insantama) Bogor.” Kata Ahmad Subadri Wakasek Kesiswaan SMAIT Insnatama Bogor

“Pembekalan keterampilan juga diberikan ke siswa yang tergabung di divisi Mitra Disiplin SIT Insantama.” Tambahan dari Ustadz Rian Triana, S.EI Wakil Mudir Bagian Kesiswaan Insantama Boarding School.

Wakil Kepala Sekolah SMAIT Insantama menambahkan, bahwa pelatihan ini bentuk penghargaan yang diberikan ke siswa yang telah memperlihatkan sikap terpuji. Sikap terpuji tersebut seperti disiplin, mampu menjadi motor bagi siswa-siswa lain dalam berkativitas. Selain itu juga diberikan ke siswa yang telah menjalankan banyak amanah sesuai dengan tugas masing-masing, terutama yang berkaitan dengan amanah OSIS.

“Belajar menunggangi kuda tidak hanya sekedar menaikinya, tapi kita juga perlu memahami bagaimana karakter dari kuda. Apakah kuda tersebut kuda yang jinak, mudah dikendalikan, atau kuda dengan karakter agresif. Ada juga kuda dengan tipe super agresif.” Kata Kang Tachta yang biasa mengasuh kuda di pusat pelatihan penunggang kuda Pondok Cengek 2 Pagentongan.

Pengarahan dari intruktur Kang Tachta

Beliau juga menyampaikan, bahwa supaya terjalin komunikasi yang baik dengan kuda, kita harus memulai dari perawatan. Membersihkan kandang dari bekas makanan ataupun kotorannya. Menyikat bulu dengan sikat yang sudah disediakan. Memberi kuda makanan dengan ramuan yang sudah ditakar. Serta merapikan dan membersikan lapangan kuda dari kotoran atau sampah yang berserakan. Mengajak jalan kuda dalam jarak tertentu, sebagai bentuk komunikasi antara kita dengan kuda. Semua aktivitas itu untuk membentuk keharmonisan antara penunggang dan si kuda.

“Kita akan memulai pagi ini dengan membersihkan kandang kuda, mengumpulkan sisa makannya dan kotorannya. Selanjutnya membersihkan bulu kuda dengan menyikatnya. Kita akan memberi kuda makan dengan ransum yang sudah disediakan. Setelah itu membersihkan lapangan tempat bermain kuda. Kemudian mengajak kuda jalan-jalan. Terakhir baru menunggangi kuda.” Kata Kang Tachta sebagai intrukstur pelatihan menunggang kuda.

Siswa diajarkan bagaimana membersihkan kandang kuda

Kesempatan berharga ini dimanfaatkan Kang Tachta untuk memberikan nasehat pada anak-anak. “Kita itu seorang Muslim, darah kita itu mengalir darah para syuhada, maka sebuah kesempatan luar biasa kalau bisa melatih keterampilan berkuda ini. Dalam hadist yang disampaikan Rasulullah.”
“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (HR Bukhari Muslim).

“Alhamdulillah, Ana sangat bersyukur dan senang mengikuti pelatihan keterampilan berkuda. Keterampilan yang diberikan sebagai bekal bagaimana mendekatkan diri dengan makhluk lain, melakukan pemeliharaan dan mengendalikan kuda saat menungganginya. Ada perasaan takut, kemudian senang.” Kata Raihan Samudra, yang juga menjabat ketua BPH OSIS 2019/2020.

Semilir angin sore membawa hawa sejuk di seputaran taman bermain kuda. Seiring dengan itu, nun jauh di sana samar-samar warna jingga mentari memberikan kabar ke rombongan, sore sudah memanggil waktu untuk kembali ke boarding. Dengan berjalan gagah bak seorang mujahid yang kembali dari medan perang, para santri menyalimi Kang Tachta, dan berpamitan untuk pulang. Dengan satu tekat menggaung di telinga, “Waktu yang terus berputar akan mengajari kami untuk menjadi pejuang agama Allah.”

Membersihkan lapangan dari kotoran kuda, sampah dan batu-batuan.
Ikut membersihkan bulu kuda dan memberi kuda makan
Mengajak kuda jalan – jalan
Intruktur sedang memperagakan cara mengikat tali kekang kuda
Siswa sedang mempraktekkan cara memasang tali kekang kuda
Serunya menunggangi kuda