Kepala SD Islam Terpadu Insantama Eko Agung Cahyono terpilih menjadi kepala sekolah dasar berprestasi terbaik kedua sekota Bogor. Lomba kepala sekolah berprestasi dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bogor selama dua hari pada Maret 2014 di SMK Negeri 3, Jalan Pajajaran Kota Bogor.

Sedangkan terbaik pertama dan ketiga berturut-turut diraih oleh Kepala SDIT At Taufiq Kecamatan Tanah Sereal dan Kepala SDN Pengadilan 3 Kecamatan Bogor Tengah.

Pak Agung, begitu siswanya biasa memanggil, pada tahun sebelumnya terpilih menjadi kepala sekolah SD terbaik ketiga. Tentu ini merupakan salah satu indikator capaian prestasi yang meningkat satu level lebih baik dari kepala sekolah yang berusia 34 tahun tersebut.

Tidak semua kepala sekolah dapat mengikuti event ini, ada persyaratan umum dan khusus yang harus dipenuhi. Beberapa persyaratan umum tersebut antara lain: memiliki kepribadian yang baik, masa kerja sebagai kepala sekolah minimal 2 tahun, dan dari kualifikasi pendidikan minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D4).

Meski persyaratan khususnya banyak yang berkaitan dengan kemampuan manajerial, Agung mengaku dalam mengikuti perlombaan ini tidak melakukan persiapan khusus begitu juga dalam manajerial. Karena baginya —baik mengikuti lomba atau pun tidak— yang penting semua tugas dan SOP yang menjadi tanggung jawab Kepsek sebisa mungkin dilaksanakan secara optimal.

Dan selama menjadi Kepsek, semua kebijakan yang akan diterapkan dan segala permasalahan yang muncul di sekolah biasanya dimusyawarahkan dulu bersama para wakil kepala sekolah, atau para guru. “Jadi yang mengantarkan saya menjadi juara sebenarnya adalah kekuatan tim di Insantama,” akunya.

Sarjana Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB tahun 2002 tersebut tertarik terhadap dunia anak sejak dirinya masih menjadi mahasiswa.

Ketika kuliah mempunyai kelompok belajar dan taman pendidikan Al-Qur’an di tempat kos. Anak-anak kampung yang belajar mencapai 100 murid waktu itu. Semua adalah anak-anak tetangga yang ada di sekitar kos-kosan. Kelompok belajar dan TPQ tersebut dikelola bersama teman-teman se-kos-kosan.

Ia juga pernah mengajar sebagai guru privat selama 6 bulan. Mengajar siswa SMP Tunas Harapan. Serta pernah mau kerja di dunia kehutanan, tapi tidak jadi karena lebih memilih “memperbaiki hutan melalui generasi umat/bangsa ini.”

Pada 2003, ada lowongan guru di SDIT Insantama, kemudian mencoba mendaftar dan diterima menjadi guru tetap di sekolah yang kala itu baru tiga tahun berdiri.

Setelah di Insantama, semakin jatuh hati dengan dunia pendidikan anak. Karena di sekolah ini memberikan nuansa pendidikan yang berbeda dengan pakem yang ada waktu itu. Insantama lahir sebagai sekolah yang memberikan kebebasan terhadap siswa namun tetap ber-ruh-kan Islam sebagai way of life.

“Ini sekolah yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain, meskipun pada waktu itu sudah mulai menjamur sekolah dengan label IT (Islam Terpadu),” pungkasnya.[]