Reportase LMT 1
(Leadership and Management Training 1)
SMPIT Insantama Bogor

Merancang dan Memantapkan Mimpi Besar

Di hari Jum’at (16 Agustus 2019) yang penuh berkah, hawa pagi bukan saja terasa sejuk tetapi terasa dingin. Hal ini karena, kemarin sore Allah SWT telah mengguyur hujan secara merata di kota Bogor tak terkecuali daerah Hegarmanah IV lokasi SMPIT Insantama yang merupakan bagian dari SIT (Sekolah Islam Terpadu) Insantama.

Pagi hingga siang itu, para siswa mengikuti Workshop Mimpi Besar. Siswa kelas 7 yang merupakan siswa baru, dipandu oleh pak Karebet Wijaya Kusuma bertempat di lantai 2 Masjid Pendidikan Insantama. Sedangkan kelas 8 dan 9 dipandu oleh para wali kelas masing-masing.

Pada bagian awal, para pemandu siswa memberikan pengantar kepada para siswa terkait konsep mimpi besar, selanjutnya siswa secara mandiri membuat roadmap mimpi besar mereka masing-masing.

Dalam pembuatan roadmap mimpi besar ini, ada perbedaan penekanan (fokus): kelas 7 berfokus pada “Menyusun” mimpi besar, sedangkan kelas 8 dan 9 berfokus pada “Memfiksasi” mimpi besar. Menyusun mimpi besar pada kelas 7, hal ini karena mereka adalah siswa baru jadi membuat langkah awal perencanaan terkait mimpi besarnya. Sedangkan memfiksasi mimpi besar pada kelas 8 dan 9, maksudnya mengevaluasi dan memantapkan kembali mimpi besar yang sudah pernah disusun oleh mereka pada saat kelas 7 di tahun yang sebelumnya yaitu di saat awal mereka masuk ke SMPIT Insantama.

Pada pengantar pembuatan mimpi besar tersebut, siswa diajak untuk merenungkan kembali terkait apa motivasi mereka bersekolah. Disini siswa dieksplore terkait alasan mereka bersekolah, kemudian mereka diajak untuk menata niat agar “lurus” yaitu bersekolah itu harus ikhlas maksudnya hanya mencari ridha Allah SWT dalam rangka ibadah dengan cara menjalankan kewajiban menuntut ilmu.

Kemudian, para siswa diajak untuk mengevaluasi diri: Apakah diri mereka termasuk kategori siswa bermasalah ataukah bukan? Karena jika siswa terkategori siswa bermasalah maka tentu akan menghambat perjalanannya ketika berproses menjadi siswa berprestasi terbaik dunia akhirat, sehingga terhalang untuk meraih mimpi besar. Oleh karena itu, permasalahan yang terjadi pada siswa harus diselesaikan terlebih dahulu. Jika permasalahan tersebut terkategori maksiat maka siswa yang melakukan wajib bertobat, yaitu taubatan nasuhah (tobat yang bersungguh-sungguh, istiqamah dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kemaksiatan lagi). Jadi bukan tobat tomat, yaitu menyatakan tobat tetapi masih sering kumat (kambuh) mengulangi lagi perbuatan maksiatnya.
Setelah itu, para pemandu membantu siswa untuk menemukan segala potensi terbaiknya karena pada dasarnya setiap siswa adalah juara.

Kemudian siswa dibantu agar muncul tekat dan kemauannya. Selanjutnya siswa dibantu untuk merancang mimpi besarnya serta menentukan step by step rancangan roadmap nya. Pada tahap ini para siswa diingatkan agar tidak mengeluh, nikmati saja semua prosesnya agar apa yang ditempuh oleh mereka menjadi amal shalih.

Di dalam membimbing para siswa, pemandu siswa selalu menyampaikan arahan dengan kalimat yang positif, selalu menyemangati dan mendorong siswa untuk siap action yang dilandasi ketakwaan sehingga tidak berhenti pada tataran rancangan di atas kertas saja.

Para siswa difahamkan tentang fase usia menurut syari’at, bahwa di usia mereka sekarang yaitu antara 11 – 15 tahun mereka berada pada fase Amrad. Yaitu fase yang memerlukan pengembangan potensi diri dan juga mencapai aqil baligh. Dimana dosa dan pahala ditanggung sendiri, sehingga para siswa yang sudah aqil baligh harus bertanggungjawab atas semua tingkah-lakunya.

Dijelaskan juga kepada siswa bahwa di Insantama, siswa diajarkan tentang syakhshiyah Islamiyah, tsaqafah Islamiyah, ilmu kehidupan yaitu IPTEK & SKILL (keterampilan). Dan semua siswa disupport untuk menguasai semuanya.

Terkait skill, siswa SMPIT Insantama juga diasah:
1. Skill interpersonal dan komunikasi
2. Skill membuat komitmen dan pengetahuan dunia usaha
3. Skill dalam menganalisa dan pemecahan masalah

Siswa Insantama dalam upaya meraih mimpi besar, mereka harus tahu pula tentang “Kunci Kesuksesan” sebagai berikut: Taqarrub ilallah, jujur, disiplin, terampil dalam bekerjasama, berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan sesama, mendapat dukungan dari orang terdekat dan sekitar, mampu bekerja keras, mencintai apa yang dikerjakan/menikmati proses, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan tangguh, memiliki jiwa yang bersemangat dan kompetitif, memiliki management hidup yang baik, mampu untuk mengemukakan ide, gagasan serta hasil karya, selalu men-upgrade diri melalui giat literasi dan mengasah skill, memiliki jiwa kepedulian terhadap sekitar.

Terkait kepedulian terhadap sekitar, maka siswa berkarakter pemimpin juga harus faham tentang akar masalah dari kondisi yang tidak ideal yang terjadi di sekitar. Apa yang menyebabkan ketidakadilan, penindasan, jurang status sosial ekonomi yang semakin menganga, dekadensi moral dan kriminal yang meningkat ? Dan apa yang dimaksud dengan residu pembangunan yang lahir dari sistem batil yaitu kapitalisme ?
Ya, mana mungkin akan tercetak calon pemimpin yang baik jika tak faham tentang sistem yang haq dan batil? Mana mungkin akan lahir calon pemimpin jika tak diasah jiwa kepeduliannya sejak dini?

Oleh karena itu, sebagai siswa calon pemimpin siswa SMPIT Insantama juga harus faham tentang 10 tanda kehancuran sebuah bangsa, bisa dilihat dari perilaku remajanya sehingga di masa depan sebuah negara bisa berpotensi sebagai Failed State (Negara Gagal) yaitu diantaranya:
1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
2. Semakin maraknya penggunaan kata-kata yang buruk
3. Remaja semakin kompak dalam hal tindakan kekerasan
4. Meningkatnya perilaku merusak diri sendiri melalui narkoba serta miras dll
5. Maraknya free sex
6. Semakin tidak faham dan tidak peduli terhadap akhlak, adab (moral) yang baik
7. Krisis multidimensi di suatu negara

Maka siswa calon pemimpin harus dipersiapkan menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan dan tuntutan di masa depan. Sehingga para siswa digembleng, diantaranya agar:
Speed and responsive, mampu memiliki inovasi yang kreatif, bersikap pro-aktif, peduli lingkungan, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, turut menyebarkan kebaikan (faham tentang kewajiban dakwah), kontrol diri yang baik (menerapkan akhlaqul karimah dan adabul Islam sebagai pengendali perilaku dirinya), mampu menjalin ukhuwah dan kerjasama yang baik, disiplin.

Oleh karena itu untuk menjadi pemimpin di masa depan, siswa SMPIT Insantama harus men design mimpi besar dan merancang roadmap nya sejak dini.

Selanjutnya, setiap siswa diberi waktu untuk menuliskan di buku khusus apa yang menjadi mimpi besar mereka yaitu cita-cita besar yang nantinya akan mereka capai, sekaligus merancang peta jalannya yaitu step-step nya berupa langkah real dalam mencapai cita-cita besar (Mimpi Besar).

Semoga Allah SWT memudahkan jalan bagi para calon pemimpin ini dalam meraih mewujudkan mimpi besarnya menjadi kenyataan, aamiin.

“All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them.”

Semua mimpi kita bisa menjadi kenyataan, jika kita memiliki keberanian untuk mengejarnya.

(Walt Disney)

Selalu-lah berharap, berdo’a dan “bermimpi” karena Allah SWT tergantung prasangka hamba. Mari kita refresh, hadits dalam kitab Riyadhus Shalihin berikut ini:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).”
(Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Penulis: Irfah Zaidah