Tanpa disidang terlebih dahulu, sekitar 124 siswa-siswi Kelas 4 SDIT Insantama, sepuluh guru dan empat perwakilan FOSIS masuk penjara bawah tanah. Mereka masuk penjara setelah studi wisata untuk mendalami mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tentang aktivitas ekonomi dan sejarah ke Museum Bank Indonesia, Museum Wayang dan Museum Fatahillah, Selasa (27/10) di Kota Tua, Jakarta Pusat.

Kejadian berawal ketika mereka melakukan kunjungan ke Museum Bank Indonesia.  Di lokasi ini, peserta diarahkan menuju ruangan teater untuk melihat sejarah uang rupiah melalui tayangan bioskop mini. Siswa menjadi lebih paham dengan peran tokoh Utas (Uang kertas) yang menjadi tokoh sentral pada tayangan kali ini, yang menceritakan sejarah dan fungsi mata uang sejak zaman dahulu hingga sekarang ini.

Puas dengan tayangan film, siswa diarahkan menuju lokasi koleksi benda-benda bersejarah yang ada hubungannya dengan sistem keuangan dan perekonomian Indonesia.

Rombongan kemudian menikmati Museum Wayang Indonesia. Berbagai jenis wayang dan topeng, baik dari dalam negeri maupun luar negeri menjadi tontonan para peserta kunjungan.  Peserta juga bisa melihat boneka si Unyil dan teman-temannya yang selama ini hanya bisa mereka saksikan di layar televisi. Dan tak kalah pentingnya, siswa-siswi dikenalkan pula dengan jenis-jenis wayang yang juga dijadikan sebagai media penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Setelah peserta menikmati goesan sepeda yang dapat disewa di seputar halaman depan museum, beli oleh-oleh serta jajanan lainnya, peserta diarahkan memasuki Museum Fatahillah.  Aura tempo doeloe sudah sangat terasa begitu memasuki ruangan museum ini. Betapa tidak, berbagai koleksi benda-benda peninggalan kolonial Belanda tersaji menarik di deretan pajangan yang sengaja dibuat tersusun rapi, termasuk juga koleksi benda-benda peninggalan zaman kesultanan Islam juga tersedia di museum ini.

Koleksi lain yang dapat dilihat adalah berbagai furnitur, keramik, meriam, prasasti, dan artefak unik lain yang sudah mengiringi perkembangan Kota Jakarta.  Museum ini juga dikenal dengan nama Museum Batavia atau Museum Sejarah Jakarta.  Terdiri dari tiga lantai, museum ini memiliki tak kurang dari 25.000 koleksi benda bersejarah.

Dan… yang tak kalah serunya adalah ketika para peserta merengek untuk mengajak segera menuju ke penjara bawah tanah.  Sepertinya mereka sudah tidak sabar lagi untuk melihat bagaimana kondisi dan rupa penjara bawah tanah tersebut.  Pasalnya, sejak studi wisata ini disosialisasikan, penjara bawah tanah menjadi bahan utama perbincangan.

“Hah… ada penjara bawah tanah?”  tanya seorang siswa 4 ketika menghadiri sosialisasi lokasi yang akan menjadi destinasi kegiatan visiting. Kontan saja, riuh rendah siswa kelas 4 memperpincangkan penjara bawah tanah, mereka seolah-olah sudah tidak sabar untuk bisa segera melihat dan menikmati penjara bawah tanah peninggalan zaman Kolonial Belanda itu.  Sepertinya akan sangat menarik.

Makanya, ketika di museum yang memperlihatkan peninggalan Fatahillah yang berjihad melawan penjajah Belanda serta peninggalan pasukan kompeni yang kejam itu, para siswa sudah tak tahan lagi ingin masuk penjara. Lokasi penjara berada di belakang lokasi museum, persis benar-benar berada di bawah tanah.

Begitu tiba di lokasi, mereka seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.  Mereka berkesempatan memasuki ruangan dalam penjara. Suasananya benar-benar terasa mencekam.  Kondisi yang pengap dengan beberapa tempat yang terlihat basah berair menjadi pemandangan yang tidak sedap untuk dilihat.

Begitupun ketika para siswa melihat bola-bola besi berantai yang tergeletak di lokasi dalam penjara yang pasti digunakan sebagai alat untuk merantai orang-orang yang dipenjara agar tidak bisa kabur.  Pemandu menceritakan para pejuang Islam dahulu dipenjara di sini, tentu sangat tersiksa sekali. Sungguh kejam sekali watak orang-orang Belanda.  Apalagi setelah mendengar bahwa, sebagaian besar diantara orang-orang yang dipenjara ini akan dieksekusi mati di pelataran depan Museum Fatahillah yang dahulu kala berfungsi sebagai Balai Kota Batavia.

Seakan-akan terbayang bagaimana mencekamnya ruangan dalam penjara ini, banyak peserta yang segera beranjak meninggalkan ruangan penjara, tidak tahan berlama-lama dalam suasana yang bisa membuat badan terasa panas dingin dan merinding. Iiiih… para siswa banyak yang begidik ngeri. Waduh, destinasi yang selama ini dinanti, malah cepat-cepat ingin ditinggal pergi.[]