Reportase Khas LMT-3 Bedah Desa 2019

HARI MENJADI PEMIMPIN

Hari Kedua

“Usia tidak menghalangi kedewasaan” ust. Karebet Widjajakusuma

Matahari mulai meninggi. Puncak gunung Salak nan bergerigi telah dihangatkan oleh sang bagaskara. Seluruh siswa kelas 8 angkatan XII SMPIT Insantama berkumpul di aula Villa YPMB Gunung Malang Tenjolaya Bogor. Para anandas semua dengan ta’dzim menyimak pemaparan dari Pak Kar atau Ust. Karebet Widjajakusuma. Materinya cukup menantang, yaitu indepth interview dan analisis SWOT. Mengapa menantang? Karena materi ini biasanya diterima mahasiswa S-1 tingkat akhir. Malam sebelumnya, anandas juga menerima pemaparan tentang teknik dan metode wawancara mendalam. Seluruh materi ini wajib dipahami oleh anandas, karena menjadi kunci utama dalam kegiatan bedah desa hari ini.

Hari mulai beranjak, ketika para siswa mulai melangkahkan kaki meninggalkan villa. Anandas akan menyebar ke seluruh kawasan RW.07 Gunung Malang dan melakukan wawancara kepada warga sekitar. Baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan.

“Teu aya cai neng.”

Begitulah ungkapan kebanyakan warga kepada anandas terkait kondisi terkini. Kemarau panjang menyebabkan kelangkaan air hingga memicu kegaduhan di antara masyarakat. Kondisi kemarau di kaki Salak mengingatkan pada catatan Alfred Russel Wallace yang menjelajah pegunungan Jawa 150 tahun silam. Ketika itu bertepatan dengan musim kemarau, sehingga naturalis dari Inggris tersebut cukup sedikit mendapatkan koleksi spesimen flora dan fauna.

Namun kondisi yang ditemui anandas bukan sekedar penelitian lapangan, tapi sebuah wawancara mendalam dan analisis yang melibatkan unsur manusia dan masyarakat. Bagaimana hasil analisis SWOT anandas? Adakah solusi bagi permasalahan di sana? Di sinilah ujian sesungguhnya bagi calon pemimpin berlangsung.

Azan ashar berkumandang, bagaskara tertutup awan tebal yang menyelimuti Halimun Salak. Tetesan air turun dari langit dan tak lama kemudian menjelma hujan lebat. Hujan yang dinanti-nanti penduduk akhirnya hadir kembali. Anandas sibuk menorehkan buah pikirnya. Dawat menari, menggoreskan hasil analisis yang bersumber dari warga. Hari yang melelahkan, mendengar keluh kesah warga sekitar untuk dicari solusinya. Sebuah hari untuk menjadi pemimpin sejati.