Gema takbiran berkumandang di Masjid Pendidikan Insantama pasca para siswa melaksanakan ibadah shalat dhuha, pagi ini Senin, 12 Agustus 2019; yang bertepatan dengan hari pertama Tasyrik, 11 Dzulhijjah 1440 H. Lantunan takbiran itu dipimpin langsung Bapak Ayung Sunandar, guru yang dipercaya menyampaikan penjelasan berkaitan dengan kegiatan pemotongan hewan qurban di sekolah. Sebelum disampaikan penjelasan, Pak Ayung meminta para siswa untuk mengumandangkan takbiran sebagai pertanda bahwa hari ini masih menjadi rangkaian pelaksanaan pemotongan hewan qurban.

Setelah bergemanya takbiran, baru kemudian Pak Ayung menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan hewan qurban, mulai dari syarat-syarat hewan qurban, hingga penjelasan mengenai jenis hewan apa saja yang dapat dijadikan sebagai hewan qurban, sambil beberapa kali Pak Ayung meminta siswa untuk duduk lebih tertib karena beberapa siswa mulai asyik mengobrol saat disampaikan materi oleh Pak Ayung. Materi ini menjadi refresh atas materi serupa yang selalu disampaikan tiap tahunnya, saat dilaksanakannya kegiatan pemotongan hewan qurban. Di saat para siswa dianggap sudah memahami materi yang disampaikan, mereka kemudian dipersilahkan menuju lapangan tengah bagi siswa ikhwan dan halaman depan kelas 1 lama bagi siswa akhwat.

Gema takbir kembali berkumandang di lapangan tengah SDIT Insantama, mengiringi prosesi penyembelihan hewan qurban. Para siswa terlihat bersemangat dalam bertakbir. “Sebelum melakukan penyembelihan hewan qurban, kita harus mengecek hewan qurban terlebih dulu. Apabila sudah terlihat sempurna bagian-bagian tubuh hewan qurbannya, sehat, dan telah cukup usianya maka hewan siap untuk dipotong,” terang Pak Diky Arta Damiki yang bertugas memberi penjelasan ke anak-anak.

Para siswa diajak untuk lebih memahami tentang seluk beluk hewan qurban berikut tata cara penyembelihannya. Karena memang demikian esensi diselenggarakannya kegiatan penyembelihan hewan qurban di Insantama. Siswa menjadi lebih tahu dan memahami bagaimana mengetahui syarat-syarat hewan qurban, jenis-jenis hewan qurban, dan juga tata cara proses penyembelihan hewan qurban, termasuk bagaimana menguliti dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil daging yang siap untuk didistribusikan kepada yang berhak menerimanya.

Hal tersebut sejalan dengan tema yang diambil pada qurban tahun ini, yaitu “Ayo Berqurban di Insantama: Bersama dalam Beribadah, Belajar, dan Berbagi”. Menurut Pak Suryana Muharam, tema tersebut diambil untuk melibatkan masyarakat terutama para orangtua untuk turut berqurban di Insantama. “Maksud beribadah adalah bahwa berqurban adalah bagian dari ibadah yang diperintahkan Allah Swt untuk semakin meningkatkan ketaqwaan. Belajar adalah sarana bagi para siswa untuk menambah tsaqofah dan pengetahuan khususnya tentang prosesi penyembelihan, baik sebelum maupun sesudah penyembelihan. Sementara berbagi adalah untuk meneruskan komitmen Insantama untuk selalu berbagi dengan masyarakat, terutama di lingkungan sekitar Insantama.” Demikian penjelasan Pak Suryana yang diberi amanah menjadi ketua panitia qurban tahun ini, saat ditanya apa maksud diangkatnya tema tersebut. Dan, alhamdulillah qurban tahun ini Insantama menerima hewan qurban sapi sebanyak 9 ekor dan 30 ekor domba/kambing.

Sebelum dilakukan pemotongan hewan qurban, Pak Marsambas yang bertugas menjadi algojo penyembelihan juga memberikan gambaran bagaimana proses penyembelihan hewan qurban. “Posisi hewan qurban harus dihadapkan ke arah kiblat. Diperlukan bantuan 3 orang untuk memegangi hewan domba agar pelaksanaan penyembelihan berjalan sempurna. 2 orang memegangi kaki bagian depan dan belakang yang sebelumnya sudah diikat, ditambah 1 orang lagi yang memegangi 1 bagian tanduk dan mulut hewan,” jelas Pak Marsambas kepada seluruh siswa yang hadir. “Sebelum penyembelihan, jangan lupa kita harus memastikan bahwa golok atau pisau yang dipakai menyembelih harus tajam. Hal ini agar tidak memberi rasa sakit pada hewan yang akan disembelih. Jangan lupa juga untuk menutupi mata hewan qurban,” terang Pak Marsambas memberi tambahan penjelasan.

Pak Marsambas kemudian mengajak para siswa untuk menggemakan takbir untuk mengiringi prosesi penyembelihan. Para siswa pun bersama-sama membaca alunan takbiran. Terasa sejuk hati ini mendengarkannya. Suasana lebaran jadi terasa di Insantama…

“Yang paling penting adalah bagaimana seorang penyembelih harus mengucapkan kalimat Bismillahi Allahu Akbar sebelum menyembelih, agar daging yang dihasilkan nanti tidak menjadi bangkai yang akan haram bila kita memakannya.” Pak Marsambas meyakinkan kepada para siswa dengan memberikan penekanan pengucapan pada kalimat tersebut. Terlihat para siswa mengangguk-anggukan kepalanya, sebagai pertanda mereka memahami apa yang disampaikan Pak Marsambas.

Proses penyembelihan itu pun berjalan sempurna. Darah mengucur deras membasahi lantai. Terlihat mulut para siswa bergumam, mengomentari kejadian barusan yang mereka saksikan. “Kasian dombanya, padahal lucu dan menggemaskan,” gumam ananda Bama, siswa kelas 5 yang bernama lengkap Arsya Obama Zenar itu, saat ditanya pendapatnya tentang penyembelihan hewan qurban tersebut. Hal senada juga disampaikan ananda Ataya Kenes Pradipta, yang siswa kelas 5, “Ana kasian sama dombanya, kelihatan sakit”.

Sesaat kemudian, domba qurban itu pun terlihat kaku dan sudah tidak bernyawa lagi. Dengan segera domba diangkat dan kaki-kaki bagian belakangnya diikat, sementara bagian tubuh yang lainnya dibiarkan terjulur ke bawah. Sisa-sisa darah masih menetes. Beberapa guru sebagai petugas kemudian menguliti domba itu. Para siswa berusaha menikmati proses pembelajaran ini. Mereka jadi semakin tahu bagaimana cara menguliti domba qurban, termasuk bagaimana mengeluarkan organ-organ bagian dalam domba. Semuanya menambah ilmu dan pengalaman. Ananda Davie Ayandra Ramadhan memberikan jawaban saat ditanya apa yang didapatkan dari kegiatan hari ini. “Ana jadi lebih tahu bagaimana caranya menguliti hewan qurban. Kelihatannya sulit dan harus hati-hati,” komentar ananda Davie, yang juga siswa kelas 5, berusaha menggambarkan pengalaman yang dia dapatkan pada hari ini. Namun, kebanyakan para siswa masih merasa geli dan jijik melihat darah yang mengalir.

Acara berikutnya yang tak kalah serunya adalah menyate, membakar dan melahapnya. Tiap kelas dengan dikoordinir guru kelas secara bersama-sama dengan siswanya bahu membahu membakar sate yang sudah setengah matang itu. Tiap siswa mendapatkan tugas masing-masing agar pelaksanaan prosesi menyate dapat berlangsung lancar. Bau daging dan asap menyeruak, menebar ke seluruh penjuru gedung SD. Baunya khas, menjadikan perut jadi terasa lapar. Alhamdulillah lontong pun sudah tersedia. Jadilah makan sate dengan lontong menjadi menu yang menggugah selera. Tiap siswa dapat jatahnya. Namun tidak sedikit juga ternyata siswa yang menolak makan karena tidak berselera atau mual. Tidak tahu apa alasannya, memang tidak terbiasa makan sate atau karena masih terbayang wajah domba yang tadi disembelih. Alhamdulillah kegiatan persatean berjalan lancar. Siswa pun kemudian dikumpulkan di kelasnya masing-masing karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, saatnya para siswa bersiap untuk kembali pulang ke rumah masing-masing…

Secara umum kegiatan prosesi penyembelihan masih berlangsung pasca pulangnya para siswa SD, terutama di area pencacahan daging dan pembungkusan. Proses harus berlangsung cepat karena tepat pukul 13.00 nanti akan mulai didistribusikan daging qurban ke warga. Sebelumnya kupon sudah dibagikan melalui pejabat RT setempa, untuk dibagikan ke warganya. Alhamdulillah semua berlangsung lancar, insya Allah tanpa kendala. Semua berjalan indah. Dan, prosesi penyembelihan qurban pun berjalan sesuai dengan tema yang diangkat: Beribadah, Belajar, dan Berbagi. Subhanallah, Allahu Akbar… (NH. Tono)