Terkesan dengan Insantama

96

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin, M.Sc

(Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat)

 

Terkesan dengan Insantama

“Rasulullah SAW menyampaikan, bahwa tempat terbaik di muka bumi adalah masjid. Maka sudah menjadi keharusan bagi lembaga pendidikan Islam untuk membangun masjid yang bagus dan representatif sebagaimana masjid yang kita hadiri hari ini. Semoga dengan adanya masjid ini (Masjid Pendidikan Insantama) akan lahir generasi yang mencintai masjid serta mendesain peradaban dengan nilai-nilai kemasjidan.”

Itulah kutipan kultum yang disampaikan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin, M.Sc, di hadapan civitas academica SIT Insantama ketika didaulat untuk memberikan kultum perdana di hadapan para siswa, pendidik dan seluruh jajaran Yayasan SIT Insantama pada pembukaan Masjid Pendidikan Insantama, Rabu, 23 Januari 2018.

Kepedulian lelaki kelahiran Bogor, 21 Oktober 1951 terhadap pendidikan Islam —yang menurutnya adalah ladang persemaian bibit-bibit pemimpin Islam— sudah tidak perlu diragukan lagi. Maka di tengah kesibukannya sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat serta Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Kiai Didin menyempatkan diri untuk berbincang sejenak tentang pendidikan Islam di ruang tamu rumahnya yang berada di samping Masjid Al Hijri II Kampus Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Menurut Ketua Baznas (2004- 2015) tersebut setiap pengelola pendidikan Islam harus serius dalam mengelola lembaga pendidikan. Ia prihatin karena masih banyak lembaga pendidikan Islam yang dikelola asal-asalan, asal jadi, asal ada muridnya. Pengelolaan yang asal-asalan hanya melahirkan generasi setengah jadi. Menurutnya, nilai bukanlah patokan utama, namun keteladanan dan akhlaqul karimah harus menjadi titik tekan pendidikan Islam. Ketika telah tertanam nilai-nilai Islam yang tinggi pada peserta didik, maka pengetahuan terkait Iptek akan mengikuti.

Salah satu hal paling mendasar yang harus dipenuhi oleh pengelola pendidikan Islam adalah keberadaan masjid. Masjid adalah intetas pertama, yang menurut dosen Pascasarjana UIKA, IPB, dan UIN Syarif Hidayatullah tersebut akan mengantarkan para peserta didik memiliki kebiasaan Islami. Adanya sebuah masjid pada sebuah lembaga pendidikan Islam dan masjid tersebut dikelola dengan baik, menunjukkan keseriusan lembaga pendidikan dalam melahirkan generasi Muslim yang tangguh. Adanya sebuah masjid akan membuat para peserta didik untuk terbiasa shalat berjamaah, melatih kepribadian mereka, memahami adab-adab yang mulia yang akhirnya menjadi pondasi kepribadian mereka.

Ia menjelaskan bahwa apabila ingin mencetak generasi terbaik maka kuncinya hanya dua, pertama, menanamkan akhlak yang mulia, sedangkan yang kedua, dengan mendidik jiwa mereka dengan nilai-nilai Islam. Dua hal tersebut inilah yang sering dilupakan oleh banyak pengelola lembaga pendidikan Islam. Tugas penanaman akhlak dan pembentukan kepribadian ini tidak hanya sekadar tugas guru agama saja, tapi juga tugas seluruh pendidik dan tugas utama lembaga pendidikan Islam. Maka lembaga pendidikan Islam harus secara serius melakukan hal ini. Perlu penanaman visi dan misi kepada seluruh peserta didik, perlu adanya kurikulum sekolah yang menjembatani serta adanya fasilitas yang mendukung akan hal ini. Salah satu fasilitas yang utama adalah adalah masjid. Karena peradaban Islam lahir dari masjid. Peradaban Islam juga ditopang oleh masjid-masjid yang menjadi lembaga-lembaga pendidikan.

Ia secara khusus terkesan dengan Insantama karena secara serius membangun sebuah masjid yang besar dan sangat representative. Sangat jarang ditemuinya lembaga pendidikan Islam khususnya di Bogor yang memiliki sebuah masjid yang sangat luar biasa dan dikelola dengan baik dan profesional, apalagi dibangun dalam waktu yang cukup singkat. Kiai Didin juga cukup terkesan dengan program-program pembelajaran di Insantama yang membentuk peserta didiknya memiliki jiwa kepemimpinan.

Secara khusus, berkisah tentang jajaran Yayasan SIT Insantama yang sebagian besar adalah muridnya di IPB dan pesantren mahasiswa Ulil Albab. Kiai Didin terkesan karena sejak mahasiswa, mereka semua telah memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi kaum Muslimin dan dunia dakwah. Maka kalau hari ini mereka membuat sebuah lembaga pendidikan Islam, maka ia yakin lembaga pendidikan tersebut akan dikelola dengan sangat baik sesuai dengan visi dan misi melahirkan generasi Islam yang tangguh.

Di akhir wawancara Kiai Didin mengirimkan salam dan mendoakan semua jajaran yayasan dan para pendidik di SIT Insantama semoga diberikan panjang umur serta kekuatan untuk mendidik dan melahirkan generasi masa depan Islam yang akan memimpin peradaban Islam di masa yang akan datang.[]