Reportase Khas Harian LDK I Bersama Insantama : Be The Leaders

59

Hari pertama, Senin, 09 Juli 2018

Pagiku cerah, matahari bersinar…
Ku gendong tas merahku di pundak…

Hari pertama masuk sekolah di SMPIT Insantama Bogor mungkin mirip dengan suasana dalam lagu di atas. Jarum jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh namun sebagian besar siswa (khususnya siswa kelas Tujuh) telah hadir di sekolah. Wajah mereka memancarkan semangat dan keceriaan serta siap mengikuti LDK I. Mereka saling mengobrol satu sama lain dengan penuh semangat tentang kira-kira apa yang akan mereka terima di acara LDK nanti.

“Kepada seluruh siswa SMPIT Insantama diharapkan segera menuju ke masjid untuk melaksanakan rangkaian acara LDK I.”, kak Fauzan (ketua OSIS SMPIT Insantama) menyampaikan pengumuman melalui pengeras suara. Tidak lama berbondong-bondong siswa menuju ke Masjid Pendidikan Insantama.

“Apa kabar antum semua hari ini??”, sapaan khas Insantama meluncur dari pak Ageng Budiansyah selaku trainer LDK I. Sapaan itu disambut dengan semangat “Alhamdulillah…Luar biasa…Allahu Akbar…Yess!!”. Sambutan tersebut menjadi pembuka rangkaian LDK I SMPIT Insantama.

Sesi pagi LDK I dibuka dengan pembahasan makna kebahagiaan. Bahwa seringkali kita salah dalam memaknai kebahagiaan, khususnya remaja. Pak Ageng mencontohkan betapa banyak remaja saat ini salah dalam memaknai kebahagiaan. Melalui tayangan interaktif diperlihatkan bagaimana para remaja saat ini memaknai kebahagiaan dari sudut pandang terpenuhinya nilai-nilai duniawi. Padahal kebahagiaan tersebut semu, bahkan menimbulkan keresahan. Kurt Cobain hingga Lee Jung Hyun justru bunuh diri di saat mereka di puncak karier. Maka sudah seharusnya kebahagiaan dikembalikan kepada Dzat yang menciptakan Kebahagiaan tersebut.

Lalu siapa Dzat tersebut?? Pak Ageng mengajak para peserta berfikir betapa segala hal di dunia ini tidak terjadi dengan sendirinya. Bukankah manusia, binatang melata, hingga alam semesta tercipta dengan sangat sempurna. “Maka”, kata pak Ageng, “Itu semua menjadi bukti adanya Sang Pencipta, yaitu Allah Swt.”. Dari sini peserta diajak untuk memaknai bahwa kebahagiaan akan lahir ketika kita bersandar kepada Dzat yang Maha Menciptakan Kebahagiaan, yaitu Allah Swt.

Dan sesi pertama pun berlalu dengan cepat bersamaan dengan hadirnya waktu sholat Dhuhur. (212)