Reportase Kegiatan Farming: Membuat Telor Asin

103

Berlatih Menanggung Resiko

Sebagaimana pemahaman pada umumnya, pendidikan merupakan proses perubahan menuju kemajuan dan penggalian ilmu dan keterampilan serta menambah wawasan peserta didik ke arah berpikir dewasa. Dari proses belajar inilah diharapkan akan membawa perubahan pada individu yang belajar. Perubahan yang diharapkan tersebut meliputi pengetahuan sikap, kecakapan hati-hati, dan lain-lain. Dalam pemahaman inilah Kegiatan Farming yang dilaksanakan pada hari Jumat, minggu pertama yang bertepatan dengan tanggal 6 Oktober 2017, mengambil tema Praktik Membuat Telur Asin. Kegiatan yang kali ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 2 mengharuskan pada setiap siswa untuk terjun langsung, turut terlibat penuh dalam proses pembuatan telur asin.

Sebelum proses praktik pembuatan telur asin dimulai, semua siswa dikumpulkan dan duduk di lapangan tengah depan areal kelas 1. Siswa diberikan pengetahuan seputar telur bebek, termasuk nilai gizi yang terkandung dalam sebutir telur bebek tersebut. Pak Nana, sebagai PJ Farming memberikan kuliah singkat nya. Dalam kesempatan ini, Pak Nana juga mempraktikkan membuat ramuan jamu yang berisi kuning telur bebek dan langsung meminumnya di hadapan para siswa kelas 2. Tak sedikit siswa yang merasa agak ‘risau’ dengan apa yang Pak Nana tampilkan. Namun, Pak Nana meyakinkan bahwa memang tidak semua orang berkenan melakukan hal tersebut. Hanya orang-orang tertentu saja yang biasa melakukannya. Namun demikian, para siswa tetap menganggap bahwa apa yang dilakukan Pak Nana tetap sebagai sebuah tindakan yang berani dan menantang…

Masing-masing siswa yang sudah tergabung di kelompoknya dan dengan didampingi oleh guru pendamping dipersilahkan untuk mempersiapkan proses pembuatan telur asin. Setiap kelompok dibekali dengan telur bebek sejumlah siswa dengan ditambah 1 butir untuk guru pendamping, garam kasar, tanah liat, abu gosok, dan air serta dengan tambahan peralatan berupa ember dan baskom.

Langkah awal yang harus dilakukan para siswa adalah membersihkan telur di ember berisi air yang telah disiapkan oleh guru pendamping. Pada proses pembersihan ini siswa diharuskan juga menyapu kulit telur dengan kertas ampelas. Tujuannya adalah untuk membersihkan kotoran yang bandel, di samping juga untuk membuka pori-pori telur agar proses penyerapan garam ke dalam cairan telur bisa berlangsung secara optimal. Kepada para siswa diminta untuk melakukannya secara hari-hati agar telur tidak pecah, mengingat telur yang mempunyai sifat rawan pecah. Walaupun demikian, beberapa siswa tetap saja karena kekuranghati-hatiannya akhirnya memecahkan telurnya. Hal ini menjadi pengalaman yang berguna bagi siswa karena siswa yang bersangkutan tentu akan lebih berhati-hati di kegiatan berikutnya. Siswa yang telurnya pecah dipersilahkan untuk menukar dengan telur yang masih utuh.

Tahap berikutnya, para siswa dengan bantuan guru diminta untuk mencampurkan adonan antara tanah liat, abu gosok, dan garam dengan perbandingan tertentu. Adonan inilah yang akan digunakan untuk melapisi telur. Setelah adonan siap, setiap siswa dipersilahkan membungkus telurnya dengan melapisinya dengan adonan tanah yang sudah disiapkan. Langkah tersebut harus dilakukan dengan lebih berhati-hati lagi karena bila tekanan yang diberikan saat membuat lapisan telur lebih kuat tentu akan menyebabkan telur menjadi pecah. Sekali lagi, beberapa siswa ada yang memecahkan telurnya. Kegiatan ini sebagai gambaran bahwa setiap hal dalam kehidupan pasti ada risikonya. Oleh karena itu, setiap orang harus berani menanggung risiko itu. Tidak ada bedanya dengan para siswa kelas 2 ini di mana mereka diberikan kegiatan yang mengandung risiko, yaitu mengolah telur yang memiliki karakter mudah pecah.

Pendampingan oleh guru sangat diperlukan dalam praktik seperti ini. Diperlukan kesabaran dan ketelatenan guru dalam membimbing para siswanya. Apalagi mereka masih dalam usia anak-anak yang belum mempunyai banyak memori terkait melakukan hal-hal yang mengandung risiko. Tapi itulah intinya belajar. Semuanya memerlukan pemahaman tentang nilai sebuah proses. Bahwa tidak semua makanan atau minuman itu tiba-tiba ada dan siap untuk dikonsumsi. Para siswa harus paham dan mengerti bahwa ada kalanya sesuatu itu memerlukan proses mempersiapkan nya dan karenanya memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Dan, dalam proses itu juga harus dipahami, diperlukan kemantapan dan kemauan dalam melangkah, walaupun akan menghadirkan risiko. Tidak semua hal itu bersifat nyaman dan aman. Disinilah perlu proses pembimbingan dan memahamkan kepada peserta didik. Insyaa Allah, pengalaman ini akan menjadi pengalaman yang sangat berarti, menjadi pengalaman yang sangat berguna dalam mengantisipasi hidup ke depannya… (NH. Tono)