Monokotil Buat Ami

26

‘’Anak yang lahir cacat bukanlah ciptaan Tuhan yang gagal’’. Demikian ucapan seorang pembicara dalam sebuah tayangan Kick Andy yang terekam betul dalam benak saya. Saat itu acara tersebut menampilkan sejumlah anak ‘’berkebutuhan khusus’’ namun eksis dan berprestasi.

Tayangan tersebut membuat ingatan saya terbang ke alam beberapa tahun silam, tatkala mulai magang di SDIT Insantama. Di sanalah saya mendapat pengalaman baru menghadapi murid yang tergolong ‘’berkebutuhan khusus’’ karena menderita autisme[1].

Dunia pendidikan terus terang dunia baru buat saya. Menerjuni profesi ini kali pertama, saya magang jadi guru SD di kelas IB. Kelas yang riuh –namanya juga anak-anak-, tapi kelak terasa penuh aroma kebahagiaan, kasih sayang, dan keilmuan.

Nah, di kelas itu ada seorang murid yang tampak ‘’aneh’’. Ketika teman-teman sekelasnya duduk manis di bangku masing-masing, dia malah duduk di atas loker tas dan asyik dengan mainannya sendiri. Ami nama panggilannya. Tingkah lakunya tak terduga: tertawa, teriak, marah-marah, berbicara sendiri. Begitu terus dan terus begitu.

Awalnya saya agak ‘’takut’’ pada Ami. Bukan apa-apa, anak seperti ini kan ‘’berkebutuhan khusus’’. Jadi, harus punya ilmu dan pengalaman khusus pula untuk mendampinginya dengan metode tertentu[2]. Sedangkan saya, sama sekali tak punya keduanya.

Ternyata, Ami tidak sendiri. Di kelas lain pun, ada beberapa murid lagi yang mirip Ami walau dengan spektrum berbeda. Dan saya harus menghadapi mereka semua.

Alhamdulillah, itu menjadi pemacu saya untuk lebih mengenal tentang autisme dan anak-anak yang menderitanya. Sehingga, ketika suatu saat visiting ke SDN Semeru 6 yang menampung anak-anak autis, saya tidak kaget lagi. Yang saya heran justru bila ada orang dewasa menyebut anak-anak autis sebagai ‘‘gila’’. Kalau dia mau mengerti tentang autisme, tentu sebutan itu tidak akan diucapkannya.

Saya mengajar Ami dan  menjadi wali kelasnya di kelas tiga. Kebersamaan dengan anak ini, walau tidak lama, sungguh membuat saya banyak belajar. Ya, awalnya memang saya merasa terbebani karena ketidakmengertian saya menangani anak semacam Ami. Tapi dengan prinsip ‘’mendidik dengan hati’’, akhirnya perasaan itu hilang. Bahkan saya mulai bisa menikmatinya. Saya berpikir, kehadiran murid semacam Ami malah menjadi bahan pelajaran gratis untuk menggali ilmu pengetahuan saya tentang ‘’dunia lain’’.

Pengajaran terhadap siswa seperti Ami tidak bisa menggunakan kurikulum yang terstruktur. Kami lebih banyak memberikan ruang kepada Ami untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya; Membiasakan adab-adab yang baik pada diri Ami dalam bergaul.

Sedang bagaimana proses atau tahapan-tahapan yang benar dalam mendidik anak autis, waktu itu saya belum punya ilmunya. Perlu suatu latihan atau training khusus yang terpadu di lembaga-lembaga yang memang bergelut dalam menangani anak-anak Autis. Sehingga nantinya, perlakuan yang diberikan adalah perlakuan yang tepat dan terarah.

Sehari-hari ada saja tingkah Ami yang mencengangkan. Pernah pada suatu Jumat, seperti biasa semua murid ikhwan berangkat ke mesjid untuk Jumatan. Namun, Ami tetap harus tinggal di sekolah. Bukan apa-apa, kami khawatir tingkah lakunya dapat mengganggu kekhusyuan jamaah mesjid.

Nah, hari itu, Ami kabur dari  pendampingnya. Dia lalu ke mesjid persis ketika jamaah sedang shalat. Tak lama kemudian, terjadilah ‘’sesuatu’’.

Di tengah alunan syahdu suara imam yang sedang membaca ayat Al Quran, tiba-tiba dari speaker mesjid menyeruak suara nyaring seorang bocah. “Super deal, dua milyaar. Super deal, dua milyaar,” begitu pekik suara yang tak lain adalah vokal Ami. Dia memang biasa menirukan jargon tayangan ‘’judi’’ yang rutin disiarkan salah satu stasiun televisi swasta.

Tak ayal, begitu shalat Jum’at selesai, semua murid Insantama kena ‘’semprot’’ pengurus DKM lantaran aksi Ami. Maklum, pengurus mesjid tidak tahu bahwa Ami autis dan lolos dari pengawalan.

Setiap hari Ami selalu menjadi pusat perhatian murid-murid dan guru-guru. Keingintahuannya yang begitu besar dan ketidakmauan mengikuti aturan yang ada atau tingkah laku lainnya yang ‘nyeleneh’, kadang membuat sedikit repot kami di sekolah. Tetapi kami semuanya memahami dan senantiasa mengingatkannya jika dia melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma sebagai seorang muslim. Walaupun sudah diingatkan, masih saja dia mengulang-ulang perbuatannya itu karena rasa ingin tahunya yang sangat besar dan egonya yang tinggi. Sikap kami pun demikian, tidak bosan-bosa untuk mengingatkan dan mengingatkannya, agar nantinya dia memahami perbuatan mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Begitulah kiranya kita diingatkan dengan sabda Nabi SAW, “Menuntut ilmu di masa kecil ibarat mengukir di atas batu.”

Konsep PAKEM[3] (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) yang dirumuskan Dinas Pendidikan memang sangat bagus dan seharusnya menjadi motto bagi setiap guru dalam setiap pembelajaran di kelas. Sehingga murid dapat meyerap materi pelajaran dengan baik.

Berdasarkan penelitian, dalam otak manusia terdapat sistem yang dinamakan limbik[4]. Salah satu fungsinya adalah mengatur emosi manusia. Jika suasana emosi seseorang menyenangkan, maka limbik-nya membesar, sehingga akan mudah menerima info dan mengingatnya. Sebaliknya jika suasana emosi seseorang tidak menyenangkan, maka limbik-nya mengecil, sehingga akan sulit menerima info dan mengingatnya.

Suatu hari saya ingin membuktikan teori tersebut kepada Ami. Waktu itu di kelas  saya menyampaikan mata pelajaran IPA dengan materi tentang bagian-bagian tumbuhan, salah satunya tentang akar. Semuanya mengikuti pembelajaran, kecuali Ami. Seperti biasa dia asyik dengan dunianya sendiri walaupun sudah diingatkan untuk duduk di meja dan mengikuti pembelajaran. Anak-anak seperti ini biasanya memang tidak bisa dan tidak mau mengikuti metode pembelajaran klasikal seperti kebanyakan murid lainnya.

Selesai menyampaikan materi dan memberikan tugas kepada murid-murid yang lain, saya coba dekati Ami. Saya mulai menggoda dia dengan cara menggelitiknya sampai dia tertawa-tawa geli. Setelah tercipta suasana yang menyenangkan buat dia, saya mengucapkan beberapa kata, “Ami, biji berkeping satu, akarnya monokotil.” Saya terus mengulangi kalimat tersebut beberapa kali sambil menggelitik Ami yang tertawa-tawa bahagia.

“Apa Mi, akar biji berkeping satu?” tanya saya sesaat kemudian.Eh, dia menjawab, “Monokotil”.

Saya menggelitiknya lagi dan mengulangi pertanyaan yang sama sampai sepuluhan kali, baru berhenti. Alhamdulillah, responnya bagus.

Beberapa hari berikutnya saya menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya, “Apa Mi, akar biji berkeping satu?”. Dia menjawab dengan cepat, “Monokotil”.

Luar biasa, kata yang asing dan sedikit sulit bagi anak untuk mengingatnya, tapi dia bisa mengingatnya dengan baik. Betul, ketika emosi dihadirkan dalam pembelajaran akan melahirkan pengalaman yang berkesan dan mendalam pada diri murid, sehingga murid akan mengingat terus kejadian demi kejadian yang pernah dialaminya tersebut.

Kebersamaan dengan Ami tidak genap setahun, karena orang tuanya kemudian memindahkan Ami ke sekolah luar biasa (SLB). Karena memang Insantama tidak mempunyai kurikulum dan SDM khusus dalam menangan anak-anak seperti Ami.

Beberapa bulan kemudian, Ami diajak orangtuanya berkunjung ke Insantama. Perilakunya masih sama. Saya dekati dia, lalu bertanya, “Apa Mi, akar biji berkeping satu?”  Sejenak dia terdiam. Saya lalu memancingnya. “Mono…,” kata saya, yang lalu disambutnya dengan ucapan, ‘’Monokotil!”

Pengalaman tersebut semakin menguatkan pemahaman saya bahwa dalam mengajarkan materi pelajaran kepada murid-murid ada hal-hal yang harus senantiasa diperhatikan dan dilakukan. Diantaranya adalah: Dilakukan dalam situasi yang menyenangkan, menggabungkan akal dan emosi secara proporsional, mengulang-ulang materi pelajaran.

Itulah sekelumit kisah kebersamaan saya dengan Ami. Perbuatan-perbuatan Ami yang ‘‘luar biasa’’ dan bagaimana seharusnya saya bersikap sebagai seorang guru dalam menghadapinya, telah menjadi ajang latihan gratis, agar saya menjadi seorang guru yang (mudah-mudahan) penyabar, empati, perhatian, kreatif, dan inovatif dalam mendidik murid-murid Insantama, dan menyiapkan mereka menjadi calon-calon juara.

Teriring do’a, semoga Ami kelak mengikuti jejak orang-orang besar yang pernah mengidap autis seperti Newton dan Einstein. Riwayat medis penemu gaya tarik bumi (gravitasi) dan rumus energi nuklir ini terungkap pada 2003 sebagaimana dilansir BBC[5].

[1] Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang autisme seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Istilah autisme diperkenalkan sejak 1943 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan ini sudah ada sejak berabad-abad lampau (Handojo, 2003). Kartono (1989) berpendapat bahwa autisme adalah cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau diri sendiri, menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri dan menolak realitas. Oleh karena itu menurut Faisal Yatim (2003), penyandang autisme  akan berbuat semaunya sendiri, baik cara berpikir maupun berperilaku (www.duniapsikologi.com, 13 Desember 2008).

 

[2] Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda, yaitu:

  1. Applied Behavioral Analysis (ABA). ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
  2. Terapi Wicara. Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
    Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
  3. Terapi Okupasi. Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
  4. Terapi Fisik. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
  5. Terapi Sosial. Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
  6. Terapi Bermain. Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
  7. Terapi Perilaku. Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
  8. Terapi Perkembangan. Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
  9. Terapi Visual. Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
  10. Terapi Biomedik. Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis). [Sumber: autis.info/index.php/terapi-autisme/10-jenis-terapi-autisme]

[3] PAKEM adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan belajar yang beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap, dan pemahaman dengan penekanan pada belajar sambil bekerja (learning by doing), sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar, termasuk pemnafaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih bermakna, menarik, menyenangkan, dan efektif (Buku Paket Pelatihan PAKEM Unit 04)

[4] Sistem limbik (lymbic system) adalah area yang melandasi korpus kalosum dan merupakan istilah kolektif yang mengacu pada bagian-bagian otak, termasukhipokampus dan amigdala. Struktur limbik berperan penting dalam regulasi aktivitas motorik viskeral dan ekspresi emosi (www.kamuskesehatan.com).

[5] Albert Einstein and Isaac Newton may have suffered from a type of autism, according to experts. Researchers at Cambridge and Oxford Universities believe both scientists displayed signs of Asperger’s Syndrome. (http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/2988647.stm)