Sekitar 30 kilometer jarak yang harus ditempuh Muhammad Ali Hamzah (8 tahun) dari rumahnya di Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan menuju sekolahnya di SDIT Insantama Cabang Tangerang Selatan.

Sebagai Ketua Pengurus Dana Pensiun (Dapen) PT Pupuk Kaltim, ayahnya Hamzah Ir. Surya Madya, MM, tentu cukup mampu menyekolahkan anak bungsunya tersebut di sekolah yang fasilitas fisiknya jauh lebih memadai dan jaraknya lebih dekat dari rumah.

Ya, SDIT Insantama Cabang Tangerang baru berdiri dua tahun lalu, baru memiliki dua lokal kelas (@ 5 x 5 meter) dengan luas teras  1 x 10 meter. Bahkan tahun lalu, ketika Hamzah masuk kelas 1 SD, sekolah tersebut hanya memiliki satu kelas semi permanen!

Sejarah Cabang Tangsel

Berawal dari kerisauannya terhadap dunia pendidikan yang semakin sekuler, Ustadz Abdillah yang baru lulus dari studinya  di UIN Syarif Hidayatullah  mengajak beberapa orang yang mempunyai satu kepedulian yang sama untuk mendirikan lembaga pendidikan yang islami.

Singkat cerita, tergabunglah delapan orang yang berkomitmen untuk mendirikan SDIT Insantama Cabang Tangsel yakni Ustadz Abdillah, Ustadz Zaki, Ustadz Mashuri, Ustadz Abu Raihan, Ustadz Dadang, Ustadz Fadli, Ustadz Sundarai dan Ustadz Budi Darmawan. Selanjutnya mereka bersepakat untuk membentuk yayasan yang kemudian diberi nama Yayasan Mitra Pendidikan Misykatul Ummah dan Zaki pun diamanahi sebagai ketua.

Mereka kemudian mengadakan pertemuan dengan pihak Yayasan Insantama Cendekia di Bogor dan bertemu langsung dengan Ketua YIC Ustadz Muhammad Ismail Yusanto. Setelah melalui beberapa pertemuan dan konsultasi dengan YIC maka SDIT Insantama Cabang Tangerang Selatan pun didirikan pada Januari 2016, dengan kondisi yang masih sederhana dan jauh dari bentuk sekolah yang ideal.

“Tapi walau demikian, kami berkomitmen kuat untuk membangun cabang Insantama ini menuju sebuah sekolah yang ideal dari semua aspeknya,” ujar Budi yang kini menjadi ketua yayasan menggantikan Zaki..

Tahun pertama, dengan dana saweran internal pengurus yayasan dan pinjaman terbangunlah satu ruang kelas yang luasnya 42 meter persegi (7 x 6 m) dengan teras depan 14 meter persegi (2 X 7 m) di  Jalan Mushala Al-Hidayah, Parakan, Pamulang 2 Tangsel.

Melalui medsos dan berita dari mulut ke mulut maka di tahun pertama dibuka, ada 13 murid yang mendaftar termasuk Hamzah.

Pada tahun kedua, Cabang Tangsel berhasil menambah sarana sekolah lagi di Jalan Pamulang 2, Benda barat 3, Kp Parakan Rt 02/09 No 39, Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan, Pamulang, Tangsel. Terbangun 2 lokal kelas dengan luas bangunan per lokal 25 meter persegi (5 x 5 m) ditambah teras seluas 1 x 10 meter.

“Alhamdulillah itu semua kami  dapati dananya dari donatur yang ikhlas lillahi ta’ala membantu kami karena sangat mendukung berdirinya Insantama Tangsel ini. Bangunan kedua ini berdiri di atas lahan kurang lebih 300 m²,” ujar Budi.

Muridnya berjumlah 35 siswa.  14 orang kelas satu dan 21 orang kelas dua.

“Tentu kami terus berusaha untuk bisa menambah kualitas baik sarana dan prasarana sekolah. Kami yakin, selama kami terus berusaha maksimal diiringi dengan bermunajat kepada Allah SWT, maka atas izin dan pertolonganNya, gerak langkah bersama kami, baik anggota yayasan maupun para guru, cita-cita kami akan terwujud dengan sebaik-baiknya,” ungkap Budi.

Lebih Mandiri

Pada Selasa, 19 Maret 2018, Kabar Insantama pun menanyakan kepada orang tuanya Hamzah mengapa mau jauh-jauh menyekolahkan anaknya ke Cabang Tangsel yang bahkan fasilas fisiknya belum memadai. “Saya ingin anak saya bisa mengalami perjuangan dan belajar hidup apa adanya, bukan menikmati sekolah dengan fasilitas lengkap yang dapat membuatnya manja dan menuntut kenyamanan,” jawab Surya.

Dengan menyekolahkan Hamzah di Cabang Tangsel, Surya berharap anak bungsu dari empat bersaudara mendapatkan bimbingan untuk mengenal dan mencintai Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, mengamalkan ajarannya sehingga dapat menjadi golongan hamba Allah yang kuat dan diridha Allah SWT.

Lelaki kelahiran Samarinda, 14 Desember 1962 pun menceritakan perkembangan anaknya selama sekolah Cabang Tangsel. “Sesuai bertambahnnya usia Hamzah dan ilmu yang diajarkan di sekolah, Hamzah mulai bisa menjadi anak yang lebih mandiri dan mampu bertenggang rasa, walau kadang masih harus diarahkan tapi sudah mulai tampak.”

Hamzah pun mengaku senang sekolah di Cabang Tangsel, karena bisa belajar dan bermain. Di samping itu, ia juga senang belajar dan bermain dengan teman-teman sekelasnya karena baik, berkawan dan saling menolong. Ia juga mengaku enak diajar oleh guru-guru Cabang Tangsel. “Enak, gurunya baik-baik,” pungkas bocah kelahiran Jakarta, 8 Januari 2010.[]

 

 

 

 

 

 

 

Cabang Leuwiliang