Masjid Pendidikan Insantama: Ikon Utama Ibadah, Pendidikan dan Dakwah

 

Begitu memasuki gerbang menuju kampus Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama Bogor, pandangan mata para peserta peresmian Masjid Pendidikan Insantama (MPI) pun langsung tertuju pada sebuah bangunan yang berdiri megah, Rabu, 23 Januari 2018. Pasalnya, menaranya yang setinggi 28 meter, serta dilengkapi kubah berwarna hijau itu, membuat tempat ibadah umat Islam ini begitu terlihat menyolok dari kejauhan.

Seolah hendak mengombinasikan nuansa Timur Tengah di Insantama, bagian luar masjid ini dicat dengan warna khas gedung-gedung Insantama; abu-abu. Tiang-tiang luarnya berwarna hitam, dan ruang di antara tiangnya diperindah dengan ornamen kerawangan (decorative screen) motif geometris Islami berwarna putih sebagai kulit kedua (secondary skin) dari dindingnya yang berwarna merah yang diapit masing-masing dua jendela. Ornamen yang sama juga terlihat pada menara bagian depan gedung masjid.

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 670 meter persegi dan memiliki 28 tiang seolah berpadu menjadi penyangga kubah hujau masjid yang berdiameter 6 meter.  “Kubah hijau ini diinspirasi oleh kubah Masjid Nabawi. Sebagaimana dulu para sahabat yang mengikuti pembinaan di dalam masjid, kita pun berharap, (melalui pembinaan di dalam) masjid ini, akan pula menghasilkan generasi para sahabat…aamiin,” kata Ketua DKM Masjid Pendidikan Insantama Ustadz Mashudi.

Total biaya yang telah dihabiskan untuk pembangunan ini telah mencapai lebih dari Rp 7,8 miliar.  Dana ini didapatkan sebagian dari dana wakaf siswa, guru, karyawan, dan para darmawan. Sebagian lainnya dari dana wakaf yayasan. Dan kubah yang berwarna hijau itu khusus di datangkan dari Jogja. Dan luar biasanya, kubah ini merupakan sumbangan dari arsitek Masjid Pendidikan Insantama sendiri, yakni Dwi Siswantoro, arsitek terkemuka lulusan Universitas Gadjah Mada, yang sudah berpengalaman membangun ratusan rumah dan masjid mewah,  gedung bahkan belasan hotel berbintang lima, empat dan tiga di Indonesia.

Pada pagi yang penuh berkah tersebut, masjid yang telah mengalami proses pembangunan secara intensif selama 1,5 tahun ini diresmikan Wali Kota Bogor Dr H Bima Arya Sugiarto.

Acara juga dihadiri oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, Komandan Kodim 0606 Kota Bogor,  Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Kepala Bagian Kesra Pemkot, Kepala Perizinan, Camat Bogor Barat beserta Lurah Gunung Batu dan jajaran RW dan RT.  Hadir pula KH Asep Zulfiqor dari Pesantren Tahfidz Al Falakiyah, Pengurus Qiraati Korcab Bogor, warga sekitar Hegarmanah,  pengurus Fosis, kolega, arsitek MPI Dwi Siswantoro dan tentu tidak ketinggalan Ketua Yayasan Insantama Cendekia Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, lengkap beserta pengurus yayasan yang lain.

Ikon Utama

Acara peresmian ini nampak gegap gempita karena selain dihadiri  tamu undangan di atas, juga dihadiri oleh sekitar 1.500 siswa dari jenjang SD, SMP dan SMA dan 250 guru dan staf SIT Insantama.  Iringan marawis yang dimainkan oleh santri Boarding Insantama menambah semaraknya suasana.

Kegiatan yang berlangsung tidak lebih dari tiga jam ini diawali dengan tilawah Quran beserta terjemahannya yang dibawakan oleh dua siswa SMPIT Insantama.  Dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Yayasan Insantama Cendekia, Bapak Ir. H. Ismail Yusanto dan sambutan Walikota Bogor sekaligus meresmikan pendirian Masjid Pendidikan Insantama.  Pada saat peresmian ini, lantunan doa untuk keberkahan seluruh civitas akademika dan lingkungan sekolah dipimpin oleh  Kiai Didin Hafidhuddin.

Prof. Didin  juga berkesempatan memberikan kultum (kuliah singkat)  tepat menjelang masuknya waktu shalat Zhuhur kepada para jamaah yang telah memadati bagian utama masjid.  Acara diakhiri dengan menunaikan shalat berjamaah dan ramah-tamah bada shalat dengan menyantap hidangan siang.

Berulang terlontar ucap kekaguman dari mulut Pak Walikota dan Kiai Didin saat meninjau MPI itu mulai lantai dasar yang menjadi ruang penerimaan tamu (front office) dan perpustakaan serta laboratorium, dilanjutkan ke lantai 3 dan berakhir di lantai 2. “Subhanallah, subhanallah bagus sekali,” ungkap keduanya bersahutan kepada Ustadz Ismail Yusanto.

“Mestinya begini masjid sekolah itu. Hanya sekolah yang bagus, yang menyiapkan masjid yang bagus,” ucap Kiai Didin lirih.

Keberadaan masjid ini sangat diidamkan dan sangat penting bagi SIT Insantama, karena masjid sebagai ikon utama fisik pembelajaran dan sarana pendidikan Islami yang terpadu.  Meski dibilang lama, yakni baru tahun ke-17 sejak sekolah (SDIT) berdiri pada tahun 2001, akhirnya para civitas akademika dapat menikmatinya.  Sebelumnya, para siswa, staf dan guru melakukan salat berjamaah di kelas, auditorium/aula maupun selasar kelas. Bahkan beberapa kegiatan kesiswaan, murid dan guru pernah melakukan shalat Dhuha di halaman sekolah.  “Alhamdulillah mulai saat ini kita sudah bisa melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid,” kelakar Ustadz Ismail Yusanto yang kemudian disambut tawa hadirin.

Terlebih, pelaksanaan ibadah Jumat.  Para siswa didampingi guru harus dibagi menyebar ke empat masjid yang ada di sekitar sekolah untuk melaksanakan shalat Jumat.  Ada suka-duka selama siswa berproses menjalankan pendidikan ibadah sebelum adanya masjid.  Pernah beberapa kali siswa SDIT Insantama ngompol saat shalat Jumat, dan ini tentu menjadi cerita seru bagi guru pendamping.  Juga siswa SMP dan SMA yang sudah beranjak dewasa, sebagian mereka  tidur berjamaah saat khutbah Jumat, dan sebagian lain ngobrol.  Maka wajarlah jika ada pengurus masjid yang menegur siswa, baik teguran lisan maupun tulisan,  karena aktifitas yang dianggap menggangu kekhusukan ibadah Jumat.

Mengutip pernyataan Ustadz Ismail Yusanto pada sambutan peresmian,  nilai penting keberadaan MPI adalah untuk menggenapi pemaknaan terpadu dalam nama Sekolah Islam Terpadu, yakni keterpaduan pendidikan sekolah, pesantren dan masjid.  Dua unsur pertama telah mendahului berdiri, sedangkan unsur masjid terwujud pada tahun ini.

“Sesuai dengan namanya, yaitu masjid pendidikan, maka selain sebagai pusat ibadah juga sebagai pusat pendidikan dan dakwah bagi sekitar 1500  siswa SDIT, SMPIT dan SMAIT, juga 250 guru dan staf SIT Insantama.  Terlebih ada 400 siswa SMPIT dan SMAIT Insantama yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Jayapura, Makassar, Kendari, Palu, Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Banjarmasin, Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang, Babel, Lampung, Serang Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, Malang, Jember, Bali dan daerah lain.  Bahkan juga dari daerah di luar Indonesia, seperti Maldiv, Qatar, Malaysia, India, dan Australia yang mengikuti program boarding atau pesantren.  Tentu kehadiran masjid yang amat representatif amat sangat diperlukan,” jelas Ustadz Ismail.

Pernyataan ini diaminkan oleh Prof KH Didin, “Di  setiap institusi pendidikan, apalagi institusi pendidikan Islam memang mesti ada masjid yang bagus, yang representatif, yang menyenangkan, yang wangi, yang indah, seperti apa yang kita saksikan pada hari ini di masjid ini. Ini kebanggaan dan syukur kita kepada Allah SWT. Kenapa ada masjid dan kenapa anak-anak kita harus cinta ke masjid?”

Menurutnya, ada beberapa alasan, salah satunya, karena ada sabda Nabi SAW yang menyatakan sebaik-baik tempat adalah masjid. “Kita berharap anak-anak kita adalah ahli masjid tapi juga ahli bidang lain di bidang kehidupan. Kita doakan ini anak-anak muda yang luar biasa ini, yang memiliki masa depan untuk mendesain kehidupan berdasarkan nilai-nilai kemasjidan,” bebernya.

SIT Insantama didirikan oleh Yayasan Insantama Cendekia sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjawab persoalan bangsa dan negara ini khususnya di bidang pendidikan.  Menurut SIT Insantama salah satu persoalan besar dalam pendidikan di Indonesia dalam perspektif Islam di antaranya adalah lemahnya pengajaran tsaqafah, selain lemahnya pendidikan kepribadian atau karakter.  Sebagai contoh, survei yang dilakukan beberapa waktu lalu, ternyata lebih dari 70% lulusan SMA di Jogja, 45% di Tasikmalaya, 30% di Makassar, 70% di Mamuju, entah berapa angka yang di Bogor, itu mereka tidak bisa alias buta huruf Al-Qur’an.

“Ini tentu sebuah kenyataan yang sangat menyedihkan, bagaimana bisa mereka yang sudah menempuh dua belas tahun pendidikan untuk sekedar membaca Al-Quran saja tidak bisa?  Kalau membaca Al-Qur’an saja tidak bisa, bagaimana mereka bisa dekat dengan Al-Qur’an?  Kalau mereka tidak dekat dengan Al-Qur’an, maka bagaimana mereka bisa memiliki akhlak Qurani? Inilah pangkal kemelut munculnya problematika yang ada di negeri ini yang justru sebagiannya dilakukan oleh kaum cerdik-pandai.  Hal ini semestinya menyadarkan kita semua bahwa pendidikan formal yang di satu sisi memang telah mengantarkan mereka sebagi sarjana, tapi tidak cukup berhasil mengantarkan mereka sebagai sarjana yang sujana,” ungkap Ustadz Ismail.

Di titik inilah pentingnya SIT Insantama ada di tengah-tengah dunia pendidikan Indonesia, di tambah dengan bermunculannya cabang Insantama yang sudah ada di 20 kota se-Indonesia.  Yang kemudian akan meng-copy paste pola pendidikan yang mengutamakan aspek tsaqafah Islam, penguatan kepribadian selain membekali dengan ilmu kehidupan, sain dan teknologi.

Dan hal ini yang menurut Walikota Bogor, bahwa generasi sekarang agar bisa eksis untuk mengarungi kehidupan maka harus menjadi generasi kosmopolitan, yaitu generasi yang memiliki pijakan kuat di tingkat lokal, tangguh sebagai warga bangsa di tingkat nasional dan luwes berselancar di tingkat global.  Pak Wali menegaskan: “Tapi menurut saya harus ditambah satu lagi… dan itu ada di Insantama, apa itu?  Generasi kosmopolitan yang religius dan Islami.”[]