LIPUTAN KHAS PERMATA 19/20
SMPIT Insantama

Never Ending Bergembira

Khawatir, inilah yang mungkin muncul dibenak orang tua anandas ketika anandas mengikuti PERMATA selama 3 hari 2 malam. Anandas adalah bagian dari generasi milenial, ketika anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada bermain di alam terbuka. Apakah anandas tidak bosan meninggalkan gawai selama itu? Apakah anandas akan jatuh sakit ketika harus tidur di alam terbuka? Apakah anandas dapat mengikuti kegiatan yang penuh dengan aktivitas kotor-kotoran di sawah dan sungai? Apakah anandas mau menikmati sajian yang dimasak secara minimalis di alam terbuka? Pertanyaan-pertanyaan ini lumrah muncul di benak para orang tua.

Namun, tiga hari dua malam yang dijalani oleh anandas meluruhkan semua anggapan di atas. Sejak menginjakkan kaki di tempat PERMATA bahkan sejak di sekolah, terlihat raut kegembiraan di wajah anandas. Tak terdengar keluhan ketika harus menggotong barang-barang baik kelompok maupun individu, tak terlihat rengekan ketika berpanas-panas ria membangun tenda bersama-sama. Pada sesi jelajah medan, juga terlihat raut gembira pada wajah anandas. Jiwa yang bebas merdeka mereka tunjukkan ketika bersama-sama menjelajah area kebun dan persawahan di sekitar lokasi perkemahan. Satu demi satu tantangan diselesaikan. Bahkan ketika sampai di pos keempat dan kelima yang mewajibkan anandas berlumpur-lumpur dan terjun ke kolam, anandas baik ikhwan maupun akhwat menjalani tantangan tersebut dengan gembira. Saling berteriak, menjerit, dan tertawa bersama. Saling lempar lumpur, tolong menolong menangkap belut dan kodok sambil jejeritan, terus melompat, saling dorong ke kolam dan saling membilas baju kotor, juga ketika ada teman yang jatuh terpeleset langsung sigap memapah ke tim P3K, suatu pemandangan yang jamak terjadi pada generasi orang tua tapi langka di era anandas sekarang.

Malamnya anandas merasakan langsung arti kesabaran dan ketabahan. Ketika masakan yang dimasak di alam terbuka harus dimakan setengah matang karena hujan yang melanda. Harus meringkuk dengan alas ala kadarnya di dalam tenda ditemani bunyi serangga malam, bintang gemintang, serta embun dan halimun yang turun dari gunung Salak. Bangun tengah malam merasakan kegelapan dalam mental exercise. Ketika mental dan raga dilatih secara maksimal maka segala rasa sakit dan takut hilang begitu saja. Mereka juga dilatih untuk takjub pada segala ciptaanNya kemudian bersimpuh menyerahkan diri di hadapan Kemahabesaran Allah SWT dalam sesi muhasabah diri. Di sesi ini tak jarang bahkan anandas ikhwan akan menitikkan air mata.

Selama PERMATA rasa ke-ego-an juga mendapatkan latihan. Bagaimana anandas sejak awal berlatih mengelola dirinya sendiri. Berlatih manajemen packing serta manajemen diri agar tetap prima selama 3 hari 2 malam. Ananda juga dilatih teamwork, ketika di hari kedua harus menyelesaikan tantangan mendirikan tiang bendera dari rotan. Harus berbagi tugas dan pikiran. Ada yang mengikat tali, ada yang bertugas memegangi rotan, menarik tali-temali, mengumpulkan dan menyiapkan pasak-pasak, dan tak lupa sang konduktor yang mengatur strategi, menjaga ritme kerja agar tetap pada jalur, serta menyemangati agar tidak berputus asa ketika tiang rotan berkali-kali rebah menyentuh bumi. Beberapa juga bekerja dalam diam, mereka tidak masuk ke dalam kerumunan dan memisahkan diri. Karena mereka bertugas menyiapkan asupan kalori agar teman-temannya bisa menyelesaikan tantangan dengan sempurna. Merekalah para koki kelompok yang bertugas memasak makanan.

Dan hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Anandas tidak merasakan bahwa PERMATA pada akhirnya berakhir. Tiang bendera telah tegak dan kemah-kemah dirobohkan, anandas berkemas-kemas kembali ke rumah.

“Suatu hari nanti yang antum semua ingat ketika belajar di SMPIT Insantama bukanlah rumus-rumus matematika atau IPA, tapi yang kalian ingat adalah pernah tidur di tenda, masak sendiri, bermain lumpur, dan mendirikan tiang bendera dari rotan pada acara PERMATA. Inilah yang akan antum ceritakan kepada anak-anak antum nanti.”, pesan pak Hasan Mulyono Guro kepada anandas pada upacara penutupan PERMATA.

PERMATA akhirnya berakhir. Mungkin ada yang bermalas-malasan, buang sampah seenaknya, atau terbawa emosi sehingga nyaris berantem, tapi anandas telah sejak dini belajar disiplin, ketabahan, dan kesabaran. Dan bukankah pelaut tangguh tidak lahir dari lautan yang tenang. Lebih dari itu anandas juga mempraktekkan rumus kebahagian, “having serious fun and having fun seriously”. Selamat nak, antum adalah calon pemimpin masa depan.

Epribade muph!!
Selesai