Kontak Kami

LDK 2 SMPIT Insantama TAKLUKKAN BOGOR

Satu Langkah Menuju Predikat Pemimpin Mulia

“Longmarch tidak hanya sekedar menghayati perjuangan para pejuang yang pernah melakukan hal yang sama untuk mempertahankan kemerdekaan. Namun longmarch adalah latihan ketabahan, kesabaran, serta melatih jiwa dan raga.”, Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara.

Sinar mentari belum menyinari bumi, bahkan aktivitas santri Boarding baru saja dimulai ketika satu demi satu siswa SMPIT Insantama berdatangan di kampus SIT Insantama. Hari ini, 16 Agustus 2017, tercatat sebagai hari istimewa karena sekali lagi siswa SMPIT Insantama akan menaklukkan 50 Km mengelilingi kota Bogor. Acara dibuka dengan upacara sederhana yang dibina langsung oleh Kepala Sekolah SMPIT Insantama, Bapak Hasan Cinta. Wajah-wajah bersemangat ingin segera menaklukkan kota Bogor terlihat jelas pada raut para siswa. Tanda keberangkatan segera dibunyikan dan dibarengi yel-yel khas LDK 2 “Epribade Muph!!!”, siswa satu persatu berangkat menaklukkan Bogor. Dimulai dari kawasan Hegarmanah kemudian berlanjut ke kawasan kebun buah IPB di Kedongseng berlanjut hingga Ciomas. Jauhnya jarak yang ditempuh belum mematahkan semangat peserta.

Terik mulai menyengat, satu persatu semangat peserta mulai tumbang.
“pak..pak masih jauh pak?”

“Kok tanjakan lagi…”

“Haaahhh…baru nyampe sini!!”

Demikian beberapa rengekan peserta setelah melalui nyaris separuh perjalanan. Seba’da melewati kawasan Ciomas, peserta LDK II TAKLUKKAN BOGOR memasuki kawasan komplek kehutanan di Pasir Jaya. Kawasan ini cukup sejuk karena melewati samping arboretum Balai Penelitian Kehutanan dan pinggir sungai Cisadane. Peserta seperti diajak bertualang di kawasan hutan Amazon.

Peserta kemudian diajak menyusuri kawasan Kepatihan hingga tembus ke jalan Dokter Sumeru. Kawasan Kepatihan adalah kawasan padat penduduk namun berkontur naik turun karena merupakan pinggir sungai Cisadane. Di kawasan ini banyak peserta yang mulai juntai.

Namun perjuangan belum selesai karena mereka harus terus berjalan menuju ke Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) Kementrian Pertanian. Kawasan BALITTRO cukup rindang dan didominasi kebun percobaan yang berbukit-bukit. Beberapa peserta bahkan sempat jatuh bangun. Sampai di kawasan BALITTRO peserta langsung melaksanakan Ishoma.

Ba’da Ishoma peserta berkumpul di auditorium untuk mendapat kuliah umum terkait tanaman rempah dan obat. BALITTRO dibangun sejak jaman Belanda untuk meneliti potensi tanaman rempah dan obat di Nusantara.

Di auditorium BALITTRO peserta disambut oleh juru bicara lembaga penelitian tersebut. Para peserta mendapatkan penjelasan terkait tanaman rempah dan obat dari A hingga Z. Mulai dari yang umum seperti Jahe, Bayam, dan Katuk hingga tanaman obat langka seperti Purwoceng dan Buah Merah dari Papua. Dari khasiat tanaman jamu seperti Temulawak, Mengkudu, Binahong, Cabe Jawa, hingga Laos juga tanaman yang selama ini tumbuh meliar seperti Jawer Kotok, Pegagan, sampai Simbu’an. Indonesia ternyata penghasil rempah dan tanaman obat terbesar di dunia namun secara produksi kalah dengan Tiongkok dan India.

Sesi selanjutnya adalah tanah jawab yang disambut dengan antusias oleh peserta LDK 2. Beberapa pertanyaan yang muncul seperti bagaimana cara memutihkan kulit yang ternyata bisa menggunakan parutan Garut sebagai masker (tidak terbayang bagaimana memarut Garut yang sebegitu luas😁). Juga bagaimana cara menumbuhkan rambut dan meninggikan badan. Macam-macam pertanyaan dan dijawab dengan menarik oleh pihak BALITTRO. Acara kemudian ditutup dengan penukaran cindera mata oleh pihak SMPIT Insantama dengan BALITTRO.

Ending Calon Pemimpin

“Garis finish bukanlah tujuan kami, karena LDK 2 hanyalah wasilah yang mengantarkan kami menjadi pemimpin sejati”

Sulthon, begitu ia bisa dipanggil. Siswa kelas 7 ini bersosok kurus seperti saya. Saya menemuinya di jalur Loji-Hegarmanah menjelang finish LDK 2 di kampus SIT Insantama. Ia berjalan tertatih-tatih sambil memegang ulu hatinya, karena ia sedang sakit namun memaksakan ikut LDK 2. Saya menyapanya, tak meluncur satu katapun dari lisannya, hanya terdengar sengal nafasnya dan pandangan kuyu. Saya iba namun tidak tega memutuskan semangatnya.

“ayo thon..antum bisa…”, saya terus menyemangati. Sulthon terus melaju, bahkan sempat mendahului beberapa temannya yang banyak bertumbangan di jalur-jalur akhir. Sulthon terus melaju, bahkan tawaran naik motor oleh ust. Muharram UL ditolak secara halus. Sulthon pada akhirnya melewati garis akhir dan yang lebih luar biasa ia termasuk para pelopor yang finish di urutan pertama. Sulthon berhasil memutuskan rantai gajahnya. Rasa sakit seakan lenyap dari badannya, ia bak Sa’ad Ibn Waqqas yang mampu memimpin penaklukan Persia walaupun dalam kondisi sakit.

Lain Sulthon, lain Fathur. Fathur memiliki fisik yang sama persis dengan kakaknya yang sekarang kelas 9. Dua tahun mengikuti LDK 2, kakaknya selalu menempati urutan terakhir. Di etape pertama Fathur menempati barisan akhir ikhwan. Menjelang BALITTRO nafasnya tinggal satu-satu. Namun sebagaimana Sulthon, Fathur adalah kejutan pada LDK 2 tahun ini. Ia berhasil mengalahkan rekor kakaknya, karena berhasil finish pada barisan pertama.

Rute kembali biasanya menyajikan drama yang menarik. Fisik yang telah terkuras harus berhadapan dengan rute pulang yang biasanya lebih menantang dibandingkan rute berangkat. Selepas BALITTRO, peserta menyusuri perkampungan di kawasan Cilendek Barat, Timur, dan Indah. Gang-gang sempit dengan kontur naik turun menjadi momok bagi peserta. Selepas gerbang Yasmin, peserta ditantang menyusuri areal pertanian di kawasan Gang Kelor. Ada hiburan sedikit berupa timbunan sertu yang menjadi lokasi ideal untuk fotografi. Berpose di atas timbunan sertu bak pendaki yang menaklukkan puncak Mahameru dalam kisah “5 cm”.

Selepas menyeberangi jembatan Cisadane, peserta memasuki kawasan Sindang Barang. Hingga sini garis finish menanti di depan mata. Namun sekali lagi bukan itu tujuannya, karena LDK 2 adalah satu dari sekian langkah menjadi pemimpin dunia.