Segala sesuatu yang keluar dari tubuh manusia melalui telinga, mata, hingga yang keluar melalui pori-pori tubuhnya, pada umumnya itu kotor” Kata Ust. Rahmat di awal tausiyahnya malam ini (28/02) di hadapan santri IBS Insantama.

Ust. Rahmat menjelaskan bahwa dari sekian banyak tempat pengeluaran sesuatu dari tubuh kita, mulut (lisan) merupakan tempat keluar yang masih bisa dikendalikan manusia; apakah yang keluar itu sesuatu yang kotor ataukah bersih.

Maka Jika mulut (lisan) yang sebenarnya bisa kita kendalikan saja, kita tidak bisa mengendalikannya, maka sempurnalah sudah kekotoran diri kita.” Terang Ust. Rahmat.

Lisan merupakan salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada kita. Bentuknya kecil dan halus namun justru di sanalah terletak kebaikan dan keburukan seseorang. Lisan bisa menjerumuskan manusia ke dalam api neraka, juga bisa memasukannya ke dalam surga.

Ust. Rahmat kemudian meminta santri untuk menyebutkan kata-kata kotor berupa kata-kata hinaan, umpatan, kasar termasuk kata-kata candaan yang selama ini mereka dengar atau bahkan sebagian mereka pernah ucapkan.

Coba bayangkan, kalau kata – kata kotor itu keluar dari mulut antum, sebagaimana ketika (antum mengeluarkan kotoran waktu) antum BAB (Buang Air Besar).” Ungkap Ust. Rahmat.

Beliau kemudian membacakan ayat, “yaa ayyuhaa al-ladziina aamanuu, ittaqullaaha wa quuluu qaulan sadida.” (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar). (Al-Ahzab: 70)

“Maka dari itu, jika seorang muslim mengatakan kata – kata kotor, hendaknya dia bertobat.” Lanjut Ust. Rahmat.

Dengan lisannya seseorang dapat membahagiakan sekaligus menyakiti orang lain. Bisa membuat orang lain menangis, disaat yang sama juga bisa membuat orang lain tersenyum.

Seringkali perdamaian dan permusuhan yang tumbuh di sekitar kita itu, adalah sebab dari perbuatan lisan kita. Bicara masalah lisan, juga tak lepas dari hati seseorang. Karena apa yang kita perbuat dengan lisan kita, akan berpengaruh dengan hati seseorang.

Beliau kemudian membacakan hadist, “al muslimu man salima al-muslimuuna min lisanihi wa yadihi” (Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya)(Al-Hadist).

Luka karena pisau di tangan, beberapa hari bisa sembuh, namun luka yang disebabkan lisan, goresan nya itu di hati. Seorang yang beriman hendaklah bisa menjaga lisannya.” Kata Ust. Rahmat.

Oleh itulah, lanjut Ust.Rahmat, seorang hamba hendaknya memikirkan betul dampak dari ucapannya. Sebab jika dibiarkan akan mengakibatkan dirinya celaka. Sebagaimana sabda Rasul, “Inna al-‘abda layatakallamu bil kalimati ma yatabayyana ma fiha yahwi biha fi an-naari ab’ada ma baina al-masyriqi wa al-maghribi.” (Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat) (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasullulah SAW juga memperingatkan manusia agar kita tidak banyak bicara, kecuali berbicara untuk hal-hal yang penting saja, bermanfaat atau untuk mengingat Allah SWT. jika tidak ada nilai ibadahnya, tidak mengandung do’a, syiar atau dakwah, lisan kita lebih baik diam. Di zona diam inilah, lisan akan menyelamatkan pemiliknya.

Di akhir tausiyahnya, ust. Rahmat berpesan kepada para santri “Bicaralah yang baik, kalo tidak bisa, mendingan diam.” Lalu dipungkas dengan hadist, “Man kana yu`minu billahi wal yaumil akhir fal yakul khoiron aw liyashmut” (Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam) (HR. Bukhori). (Kur)