Kekompakan Ayah Dan Anak

53

Selalu ada yang menarik ketika saya melakukan wawancara dengan orang tua calon siswa baru SIT Insantama, terutama orang tua yang akan memasukkan anaknya ke SMAIT Insantama.

Biasanya, urusan sekolah anak itu identik dengan para ibu. Konsultasi ke guru kelas, mendatangi kepala sekolah, menyelesaikan urusan administrasi, ambil raport dan sebagainya, umumnya dilakukan oleh para ibu. Maka, kehadiran sosok ayah dalam urusan sekolah anak buat saya menjadi catatan tersendiri. Apalagi ini terkait dengan pilihan calon sekolah anak.

“Lho Bapak lagi?”, itu kalimat pendek, spontan, yang keluar dari mulut saya ketika Si Bapak, sebutlah Pak Abdullah, tiba-tiba sudah muncul di depan saya. Pak Abdullah dari Lampung dengan logat dan gaya yang njawani itu saya persilahkan duduk. Dia hanya senyum-senyum, sambil menjawab pendek “iya Bu.” “Nggak bosan dengan Insantama pak?” Kembali Pak Abdullah menjawab pendek dengan senyum khasnya, “Enggak Bu.”

Kenapa saya kaget dengan kehadirannya? Ya, karena ini kali ketiga saya mewawancarainya. Tahun 2012, 2015, dan 2016. Tahun 2012 bertemu dengan saya saat bapak ini ingin memasukan puteri pertamanya ke SMPIT Insantama. Tiga tahun kemudian, bertemu lagi ketika puterinya itu akan melanjutkan ke SMAIT Insantama. Dan tahun 2016 ini ketemu lagi dengan saya, akan memasukkan puteri ke 2 nya ke SMAIT Insantama.

Pertanyaan pertama pada Pak Abdullah, juga kepada orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke Insantama, adalah, “Kenapa ingin masuk Insantama?” Dengan singkat, Pak Abdullah menjawab: “Tak ada pilihan lain.” Ia lalu menceritakan kemajuan dan perubahan luar biasa yang dialami puteri pertamanya yang sudah 4 tahun tinggal di boarding dan sekarang kelas 10 SMAIT. “Saya ingin adiknya juga dapat kesempatan yang sama, mendapatkan pendidikan yang terbaik,” tegasnya.

Sehari sebelumnya, saya juga mendapat jawaban yang sama dari seorang bapak ketika saya menanyakan dengan pertanyaan yang sama. “Tak ada pilihan lain”. “Ini sekolah yang terbaik buat anak saya. Anak saya juga sudah mantap ingin melanjutkan di sini. Saya melihat banyak perubahan pada anak saya. Dulu pasif, sekarang ia sangat aktif. Malah sering ngajari saya kalau sedang pulang saat liburan. Saya melihat banyak perubahan positif pada puteri saya,” begitu ia menjelaskan alasan mengapa ia memilih Insantama.

Apa iya? Ada rasa penasaran, perubahan seperti apa yang terjadi pada puterinya, sampai bapak-bapak ini begitu yakin dengan pilihannya. Saya kemudian coba kroscek dengan salah satu guru kelasnya. Dan rasa penasaran sayapun terjawab. “Iya Bu, anaknya sangat ta’dzim pada para guru, semangat belajar, aktif, dan mudah bergaul. O, pantas saja bapaknya begitu yakin dengan pilihannya.

Bukan hanya bapakbapak itu. Tahun lalu saat saya mewawancarai seorang bapak yang puteranya ingin melanjutkan ke SMAIT Insantama, pun memberikan jawaban yang senada “Tak ada pilihan lain.” “SMAIT Insantama pilihan saya dan anak saya. Mau sekolah dimana lagi yang lebih baik dari ini,” tegasnya.

Kok bisa kompak ya, para ayah memberikan jawaban yang sama? Tentu ini karena mereka sudah melihat sendiri hasil pendidikan putera puterinya di Insantama. Juga tentu karena mereka menyadari, pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan. Bahwa 3 tahun di SMPIT tidaklah cukup untuk membentuk pribadi yang lebih mantap dari segala sisi, maka perlu nambah 3 tahun lagi, SMAIT Insantama. Kekompakan ayah dan anak dalam memilih sekolah Insya Allah akan memberikan banyak kemudahan dalam menjalani proses belajar. []