Imtihan Akhir Santri (Imtas) adalah Ujian Akhir bagi Santri Qiraati yang telah menyelesaikan pembelajaran Qiraati.  Pembelajaran Qiraati ditempuh setelah para santri melalui sepuluh kelas/kelompok belajar, dimulai dari Jilid 1 hingga 6, Kelas Juz 27,  Kelas Al-Qur’an, Gharib dan Tajwid.  Idealnya seluruh pembelajaran tersebut selesai dalam waktu 2 tahun kalender.

Sebagaimana Ujian Nasional yang harus melewati beberapa program try out, ujian Imtas yang diselenggarakan oleh Koordinator Cabang Qiraati Bogor-1 ini pun  mengharuskan santri melewati beberapa tahapan ujian di antaranya : ujian pra-Imtas Lembaga dan Ujian Pra-Imtas Kecamatan, sebagai penentu apakah santri layak mengikuti Imtas atau tidak.

Sedikit berbeda pada pelaksanaan Imtas semester ini, biasanya Imtas dilaksanakan bulan Februari tapi kali ini dilaksanakan bulan Maret. Alhamdulillah Insantama Kota Bogor diamanahi sebagai tuan rumah Pelaksanaan Imtas Bogor-1 yang berlangsung selama 4 hari yaitu tanggal 3,4,10 dan 11 Maret 2018.  Pada umumnya pelaksanaan Imtas di wilayah Jabodetabek dilaksanakan dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Nopember dan Februari.

Jumlah Peserta Imtas sebanyak 610 santri dan berasal dari sekolah-sekolah, pondok pesantren dan TPQ yang menggunakan Qiraati sebagai metode pembelajaran membaca Al-Qur’an, seperti SIT At Taufiq, SDIT Al Irsyad, SDIT Darul Muttaqien, SDIT Al Azhar, Pesantren Al Falakiyah, Al Basyir, Al Muqsith, TPQ Riyadul Jannah dan lainnya.

Tim Penguji Imtas bukan berasal dari Koordinator Bogor lho, tapi  tim tersebut didatangkan langsung dari Koordinator Cabang DKI Jakarta.  Mereka terdiri dari delapan orang.  Setiap orang menguji satu aspek penilaian. Para penguji adalah para guru Al-Qur’an yang mendapatkan amanah khusus dari Koordinator Wilayah Qiraati.

Sedangkan aspek penilaian Imtas terdiri dari delapan objek, yaitu: Fashahah, Tartil, Gharib, Tajwid, Surat Pendek, Doa Harian, Paktek Wudhu dan Shalat.  Jadi sebenarnya evaluasi akhir Qiraati ini ingin membentuk anak didik memiliki bacaan Al-Qur’an yang bagus dan mampu melaksanakan ibadah harian dengan benar.

Sebagaimana proses pembelajaran,  Qiraati menggunakan Imtas sebagai salah satu faktor untuk menilai hasil pembelajaran yang dilakukan oleh para guru.  Apakah sudah sesuai dengan metodologi yang telah ditetapkan atau belum. Jika rata-rata hasil Imtas tersebut baik, maka dapat dipastikan para guru Qiraati di suatu lembaga/sekolah tersebut telah melaksanakan metodologi dengan benar. Dan sebaliknya, jika hasil Imtas belum sesuai dengan yang diharapkan maka kemungkinan guru belum melaksanakan metodologi dengan benar. [] Rara